Komunitas Padhang Makhsyar #187: Selalu Ada Alasan Teologis Pada Setiap Bencana

0
102
Foto masjid yang kubahnya ambles akibat gempa di Palu diambil dari Viva

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Adapun Sodom. Mereka adalah orang-orang yang suka berpesta hingga larut kemudian tidur pada siang harinya. Kumpulan orang-orang hedon penggemar pesta dan keras kepala, para pencela dan tak tahu budi. Menyukai sesama jenis. Para pemimpin-nya membiarkan kemunkaran berlangsung tanpa kendali. Mereka lebih rajin datang ke pesta-pesta dan ceremoni yang di ada adakan untuk memenuhi berahi dan nafsu nya ketimbang datang ke Majlis Majlis ilmu dan Majlis dzikir.

Apakah Allah akan mengazab sebuah kaum berupa angin puting beliung, banjir yang menenggelamkan, badai dan atau gempa yang merobek-robek tanah, merubuhkan bangunan tinggi, hingga ketakutan, gelap yang memutus komunikasi, tanah robek yang memisahkan sanak keluarga, kekalahan dan kelaparan yang sangat jika tak ada alasan yang kuat untuk terjadinya sebuah azab.

*^^*
Umat Nabi Nuh musnah karena banjir yang menenggelamkan. Adzab yang menimpa kaum Nabi Nuh terjadi di pagi hari. Allah tidak menyisakan seorang kafirpun di muka bumi setelahnya. Seluruh pemeluk agama sepakat, mengakui adanya peristiwa taufan dan badai. Di mana Allah membuka pintu-pintu langit, sehingga terjadilah hujan yang sangat deras, dan juga memancarkan air dari seluruh mata air di setiap penjuru bumi.

Maka Allah timpakan azab kepada umat nabi Luth. Negeri mereka dijungkir balikkan dari atas ke bawah disertai dengan bencana gempa yang maha dahsyat. Hujan batu, angin kencang dan petir pun saling menggelegar satu sama lain. Sodom luluh lantak tak bersisa.

Kaum ‘Aad dan Ubar adalah kaumnya nabi Hud as, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus tanpa jeda, maka kaum ‘Ad mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah lapuk. Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal diantara mereka.

Pada pagi Kamis yang sudah ditentukan wajah kaum Tsamud umat nabi Shaleh as, berubah warna kuning. Pagi yang ke 2 (Jum’at), wajah mereka berubah menjadi merah. Pagi yang ke 3 (Sabtu), wajah mereka berubah menghitam. Dan saat mulai terbit di hari Ahad, muncullah suara keras mengguntur dari langit dan gempa yang sangat dasyat dari bumi. Nyawa orang-orang kafir dari Kaum Tsamud direnggut dalam satu waktu.

Raja Namrudz dan pasukan pongah. Zaid bin Aslam mengatakan, bahwa Allah mengirim malaikat kepada raja yang sombong itu agar beriman kepada Allah, tapi ia menolaknya. Lalu malaikat mengajak untuk kedua kalinya, hingga sampai ketiga kalinya, tetapi ia terus menolak. Kemudian malaikat berkata, “Kumpulkan semua yang dapat kamu kumpulkan, dan aku akan mengumpulkan bala tentaraku.”

Raja Namrudz segera mengumpulkan seluruh bala tentaranya pada saat matahari terbit. Kemudian Allah mengirimkan pasukan lalat yang tidak terlihat oleh mereka. Lalu lalat-lalat itu memakan daging dan darah mereka, dan hanya menyisakan tulang belulang saja. Kemudian salah satu lalat, masuk ke dalam hidung Namrudz dan menetap di dalamnya selama 400 tahun. Dengan lalat itulah Allah mengadzab Namrudz. Dan Namrudz selalu memukuli kepalanya dengan besi selama itu, sehingga Allah membina-sakannya.

*^^*
Tapi siapa ingat Allah di saat musibah menimpa. Kaum Dahriyun (kaum ilmuwan penyembah masa) selalu berkata bahwa bencana hanyalah fenomena alam, tak ada Allah di semua pernyta-annya. Dan sejarah hancurnya peradaban sebuah kaum terus berulang, prilaku buruk yang menyimpang dari umat nabi-nabi itu hari ini nyata di depan mata dengan nama dan bentuk yang dibarukan, tapi jiwa dan spirit yang tidak berubah.

Saya hanya bahas peringatan Allah pada semua bencana .. tanpa menunjuk pada suatu kaum atau peristiwa tertentu … saatnya kita kembali dan bertaubat itu kuncinya bukan saling menyalahkan apalagi mencari pembenar untuk setiap kekhilafan .. bencana bisa menimpa siapapun termasuk kita tanpa kecuali .. kita saling mendoakan dan mengingat kan dalam ke baikan ..

Berharap ada istighfar pada setiap bencana. Allah Maha Teliti. Hanya kepada Allah kita bertawakkal dan mohon penjagaan.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here