Komunitas Padhang Makhsyar #190: Dewi Hoax, Fire House dan Aroma Saing Operasi Intelejen

0
133
Cuplikan film argo diambil dari film society of lincoln centre

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Benar kata Sartre, orang besar kerap jatuh karena hal-hal kecil.

*^^*
Sepenggal teori konspirasi yang membuat saya terus pusing :’Memperluas kemungkinan adanya upaya menggunakan kebohongan untuk membangun ketakutan publik, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan posisi politik. Kebohongan dengan tujuan ini biasa disebut ‘firehose of the falsehood’. Sebuah teknik propaganda yang lebih dikenal sebagai propaganda ala Rusia.

Teknik propaganda ini berciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata (obvious lies) guna membangun ketakutan publik dan tujuan mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawan. Dan ini dilakukan secara terus-menerus atau repetitive action,”.

Selain ciri usaha menimbulkan ketakutan pada publik, teknik propaganda ini juga disertai dengan teknik playing victim, yakni menimbulkan kesan bahwa pelaku pembohongan adalah korban yang teraniaya oleh satu pihak. Yang kemudian diasosiasikan dengan kelompok penguasa,”.

*^^*
Berbagai dugaan menyangkut hoax yang di buat bunda Ratna Sarumpaet, ada dugaan skenario halus, tangan intelegen berada dibalik drama itu, lantas berbagai spekulasi mengemuka, serendah itukah sekelas bunda Ratna Sarumpaet yang sudah malang melintang puluhan tahun, menjatuhkan diri dengan melakukan opera-sabun dengan resiko rubuhnya reputasi yang sudah beliau bangun puluhan tahun sebagai aktifis perempuan. Tapi apapun menjadi sangat mungkin, termasuk dugaan konspirasi bunda Ratna Sarumpaet yang disusupkan untuk menurunkan elaktabilitas Bapak Prabowo Subiyanto.

Inilah operasi intelegen tingkat dewa. Meminjam teori ‘drama-turgy ‘ kita hanya bisa milihat dari panggung depannya, sama sekali tak tahu panggung belakangnya, ada beberapa spekulasi dan dugaan yang dikunyah publik dan setiap kita boleh punya persepsi apapun termasuk saya. Semua dalam keterbatasan dan tidak satupun yang bisa menjelaskan utuh selain Bunda Ratna Sarumpaet sendiri.

*^^*
Dugaan pertama, ada konspirasi besar untuk menjatuhkan reputasi dan elaktabilitas pasangan Prabowo-Sandi yang terus naik. Hal mana membuat petahana cemas, maka berbagai upaya dilakukan untuk membendung arus dukungan terhadap Prabowo-Sandi yang mengalir deras. Faktor internal juga tak kalah genting: Ekonomi yang terus memburuk, tim ekonomi yang tidak solid, rupiah yang terus melemah, berbagai bencana yang menerjang seakan bersatu padu mengurung petahana dalam kumparan yang sangat buruk.

Konsentrasi Jokowi terbelah antara kampanye memenangi Pilpres dan menangani berbagai masalah yang terus menumpuk juga tuntutan yang langsung berhubungan dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak yang terus menghimpit. Beberapa program seakan salah urus atau diurus orang yang salah. Inilah beberapa faktor yang membuat Jokowi ciut nyali maka tak ada cara lain kecuali membuat lawan sedikit tertahan.

Publik sangat paham membaca situasi drama yang berlangsung singkat padat dan terencana seakan semua sudah tertulis dalam skenario besar termasuk kapan menangkap ibu Ratna Sarumpaet di bandara Suhat yang akan berangkat ke Chile untuk sebuah seminar yang dibiayai Pemprov DKI.

*^^*
Dugaan kedua, ada skenario membuat Ahok jilid 2. Yaitu dengan membuat modus penganiayaan terhadap bunda Ratna Sarumpaet seorang aktifis perempuan paling berpengaruh saat ini. Bisa dibayangkan jika kebohongan ini tidak terdeteksi pasti akan melahirkan gelombang protes dan kemarahan publik dengan skala besar. Bukankah berbagai persiapan untuk aksi solidaritas bunda Ratna Sarumpaet juga sudah di sebar meski tak jadi di gelar.,

Revolusi butuh martir. Dan ketakutan di tengah ramai. Mengharapkan mahasiswa bergerak seperti masa reformasi tahun 98 sepertinya sudah tak mungkin sebab mahasiswa sekarang lebih nyaman bermain Gadget atau game dibanding turun ke jalan. Sementara elaktabilitas Jokowi belum juga ada tanda turun meski dihajar dolar dan gempa. Isu pengangguran dan utang luar negeri juga tak berpengaruh signifikan maka upaya intelegen diharap bisa sedikit mengubah peta pemilih.

Setelah hoax tentang mobil bunda Neno Warisman yang dibakar gagal, bunda Ratna Sarumpaet menyediakan diri sebagai aktris yang dimartirkan seolah-olah dianiaya. Publik bisa melihat bagaimana kompaknya kubu Prabowo memberi komentar dan pernyataan di depan publik, bahkan sekelas Ibu dokter Hanum atas nama profesi pun tak bisa bedakan antara sayatan bekas oprasi plastik dan lebam karena dipukul. Tak bisa dibayangkan efeknya jika penganiayaan ini benar adanya. Akan melahirkan kemarahan massal yang luar biasa. Gelombang 212 jilid 3 akan bangkit kembali. Dan itu skenario besarnya.

*^^*
Dugaan ke tiga, Prabowo adalah kurban dari skenario besar itu. Skenario nya sederhana: Prabowo dapat kiriman foto wajah yang lebam dan babak belur. Bunda Ratna Sarumpaet berkisah bahwa dirinya habis dihajar orang tak dikenal di Bandung. Prabowo datang dengan empati penuh, mengingat seorang sahabat yang telah lama dalam satu visi habis dihajar.

Begitu pula timses yang lain semua larut dalam duka mendalam. Berbagai komentar dan pernyataan muncul dan itu wajar termasuk permintaan Pak Prabowo mengutuk dan mengusut tuntas pelaku. Para jurkam yang lain juga tak kalah garang meminta aparat untuk mengusut penganiaya zalim itu.

Belum berselang lama keadaan justru berbalik. Setelah pak Prabowo begitu antusias membela. Bunda Ratna Sarumpaet mengaku bebohong atas berita penganiayaan itu. Tak terbayang bagaimana perasaan Pak Prabowo mendengar pernyataan bohong dari bunda Ratna Sarumpaet itu, beliau dijebak dan menjadi martir.

*^^*
Dugaan ke empat, Jokowi adalah kurban berikut nya, andai bunda Ratna Sarumpaet benar dianiaya dan dapat membuktikan, sudah pasti Jokowi terdampak serius. Publik akan marah, gelombang demonstrasi 212 jilid 3 bakal lebih ramai. Tuntutan revolusi mengganti kepemimpinan nasional akan lebih mudah. Rezim Jokowi rubuh sebelum Pilpres.

Suasana chaos. Dan HRS akan mengambil alih kepemimpinan ruhani dan politik sekaligus. Berbagai spekulasi dan dugaan memang kerap tidak bisa dinalar. Para intelegen sering bertindak diluar yang kita pikir, termasuk semua dugaan diatas semuanya bisa jadi hoax dan sama sekali tidak bersandar data. Tapi kita juga keliru jika mencandra gerakan intelegen menggunakan data. Sebab intelegen bisa melakukan apapun sambil berjalan. Itulah menariknya.

*^^*
Pada akhirnya hanya bunda Ratna Sarumpaet saja yang tahu apakah ia bertindak berdasar skenario yang sudah direncana atau sekedar guyonan yang kemudian menjadi besar. Sebagaimana pernyataan beliau yang lirih bahwa semua pernyataan ‘habis di aniaya’ itu semula hanya untuk konsumsi keluarga bukan untuk publik, sebelum kemudian beliau mengarang sebuah cerita penganiayaan secara spontan.

Sebab kadang memang kita juga bersikap ‘chaldis’ ditengah kepenatan yang sangat. Beliau hanya guyon. Maksud beliau adalah ‘habis dianiaya dokter bedah kecantikan’. Saya juga pernah bilang ‘menganiaya ayam’ padahal maksud saya adalah melahap habis tanpa sisa, kita saja yang terlalu serius menanggapi karena tensi politik yang terus meninggi. Dan paranoid takut kalah. Maka semua dianggap ancaman. Sebab politik menjadi panglima.,

Mungkin saatnya dua timses saling turunkan tensi sedikit agar semua tidak ‘ngegass’ menghadapi. Bagaimana pun kita harus memberi apresiasi bahwa memang benar bunda Ratna Sarumpaet adalah pencipta hoax terbaik … .. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here