Komunitas Padhang Makhsyar #191: Bapak TNI itu Seorang Muhammadiyah

0
138
Foto Panglima Besar Jendral Sudirman diambil dari akulah Indonesia

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jendral besar Sudirman berpesan:’Percayalah, Allah menolong kita. Dalam kancah perjuangan, Muhammadiyah sanggup memelopori di segenap tempat dan penjuru. Sedikit banyak usaha Muhammadiyah telah berbuah bagi masyarakat. Pangkat dan derajat yang telah didapat oleh para anggota Muhammadiyah hendaknya tidak merubah pendirian sikap menghadapi sesuatu.”

*^^*
Lahir di Rembang, Purbalingga, pada 7 Februari tahun 1912, Sudirman muda telah mengawali karirnya sebagai guru Sekolah Menengah Muhammadiyah di Cilacap. Ia lulusan pendidikan HIK (Sekolah Guru) Muhammadiyah di Solo pada tahun 1934.

Jika yang berjasa telah pergi, kita pun lupa, sebab berganti yang baru yang lama pun menjadi tak penting. Tidak sedikit yang kesepian, menjadi orang yang dilupakan dan tidak dikenal. Siapapun bakal mengalami nasib yang sama: bekerja keras, populair kemudian dilupakan.

Persyarikatan tetap berjalan, dengan nahkoda baru, kebijakan baru, program baru dan orang-orang baru. Begitu seterusnya. Modalnya hanya satu: kita harus iklas meski ringan di ucap tapi berat di amal. Dan siap dilupakan.

*^^*
Lahir sebagai kader militan. Aktifis Hizbul Wathan dan Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah di Banyumas. Tapi siapa kenal orang ini adalah kader MUHAMMADIYAH bila penggerak Persyarikatan sendiripun abai dan tidak lagi peduli.

Sayangnya kita tak punya budaya mengenang yang telah mati. Maka Sudirman pun dilupakan dan tak perlu dikenang. Mungkin ada benarnya, sebab Sudirman sendiripun juga tak pernah ingin jasanya disebut-sebut. Dan kita lagi-lagi terjebak pada pertanyaan apakah masih perlu mengatakan kepada publik atau semua yang lahir pada hari ini bahwa pernah ada kader terbaik MUHAMMADIYAH yang menjadi Bapak Tentara Nasional Indoenesia.

Sebab mengenang yang telah pergi tak lagi penting, generasi sekarang bilang bahwa para ulama tak punya kontribusi terhadap berdirinya NKRI. Mereka hanya tahu bahwa 5 Oktober adalah hari TNI, tapi mereka tidak tahu bahwa bapak TNI Jendral Besar Sudirman itu seorang aktifis MUHAMMADIYAH.

*^^*
Peradaban dibangun oleh mereka yang telah pergi, termasuk MUHAMMADIYAH generasi sahabat: Sudirman, Kasman, Ki Bagus, Abdul Kahar, Natsir, Buya HAMKA, atau generasi salaf semacam Anis, Djarnawi, Djindar, Prodjo atau generasi tabiin: Pak AR, Pak Azhar, Lukman Harun, Djazman Al Kindy dst ..

Mungkin saya tak bisa sebut satu-satu, tapi setidaknya hari ini saya mengingat mereka yang telah pergi untuk doa yang aku ucap pelan usai subuh pagi tadi .. sebagai pengingat bahwa mereka pernah membuat tapak sejarah pada Persyarikatan tempat ku berkhidmad … 🙏🙏🙏🌹🌹🌹
Yaa Rabb ampuni salah mereka dan terima amalnya sebagai ibadah .. Aamiin

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kotq Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here