Komunitas Padhang Makhsyar #195: Para Penyintas Gosip: Scold’s Bridle

0
39
Foto eagle aye diambil dari deviantrat.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Tidak disebut kebohongan jika janji masih di ikhtiarkan tapi belum berhasil. Disebut fitnah jika orang sedang bekerja keras memenuhi janjinya dibilang membohongi hanya karena janji tak sesuai harapan. Karena takut kelak dibilang pembohong para calon pemimpin enggan berjanji membangun negeri.

*^^*
Semacam topeng terbuat dari besi untuk menutup mulut dan pendengaran tukang gosip. Penyebar isu dan berita hoax. Pada masa Eropa Kuno. Hukuman diberikan untuk memotong sebaran hoax. Negara sering dibuat sibuk oleh berita hoax bahkan tidak jarang menjadi sebab banyak selisih yang berakhir perang.

Tukang gosip musuh paling kejam. Dia membunuh tidak dengan pisau belati. Tapi hoax yang dibawa tukang gosip jauh lebih tajam ketimbang belati. Bahkan lebih perih dibanding sayatan sembilu. Tukang gosip (produsen, penyebar dan penikmat) tak ada beda. Layaknya sebuah komunitas dengan struktur dan kegemaran sama. Saling membutuhkan dan memberi.

Hoax seperti candu, membuat banyak orang ketagihan dan sulit dibendung. Scolds Bridle adalah solusi ampuh. Di kerangkeng mulut dan pendengarannya agar tak bisa menyebar gosip. Dibuat bungkam dan tuli. Itu cara efisien mem-bridle penyebar gosip.

*^*
Banyak pangeran, ksatria dan raja mati sebab hoax. Karena gosip pula, Lakshmana sepupu Rama harus membujang seumur hidup. Bharatayudha pecah juga karena Sengkuni yang terus sebar gosip membuat situasi politik memanas. Tiang gantung guiletone dibuat untuk lawan politik Maria Antoniette yang juga suka ber-gosip.

Ibunda Aisyah ra harus dipulangkan sementara ke rumah orang tuanya karena gosip selingkuh yang disebar Abdullah bin Salul. Makar para pembrontak yang dipimpin Muhamad bin Abu Bakar membuat khalifah Ustman bin Affan terkapar karena gosip tentang isu cincin stempel. Sayidina Ali ditikam pada shalat subuh oleh Ibnu Muljam juga karena gosip. Pertengkaran Sunni dan Syiah meruncing juga karena gosip.

Meski sebaran gosip dari mulut ke mulut tapi sudah cukup membuat korban hoax mati gaya. Beberapa bertumbangan. Jatuh dan hilang. Ini gosip di jaman kuno ketika teknologi gosip belum secanggih sekarang. Belum ada sebutan viral karena tukang gosip menyebar dengan cara manual. Tapi sekarang .. ..

*^*
Masjid At Taqwa di Simalungun Aceh dibakar masa, bermula dari gosipyang di sebar di media sosial. Gosip tentang wahabi dan terorisme. Menyulut emosi masa. Membangkitkan amarah. Tukang Gosip tumbuh diantara kumpulan rasa takut dan tumpukan pikiran kusut karena takut kalah maka semua dianggap lawan.

Saking dahsyatnya, gosip menempati urutan ke dua dosa terbesar setelah musyrik lebih berat ketimbang membunuh, zina dan mencuri. Sedang pelaku, produsen, penyebar dan penikmat gosip dikelompokkan sebagai kawanan kanibal pemakan bangkai. Mereka ber tolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan.

Scold’s Bridle mungkin hanya cukup untuk mencegah mulut dan pendengaran menebar hoax , tapi siapa bisa kendalikan mental dan niatnya .. ini soal ketika hoax telah menjadi industri. Naudzubillah ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here