Komunitas Padhang Makhsyar #196: Ada Tiket Surga di Pilpres 2019

0
79
Foto Tiket Akhirat diambil dari net-sharez.blogspot

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Setiap terjaga, aku berkata: “Ya Rabb, kenapa aku terbangun di Pilpres yang sama”. Gus tf Sakai

*^^*
Politik tak lantas jadi bersih karena agama, tapi agama bakal menjadi kelam karena urusan politik, yang satu lantang berkata membuat garis demarkasi: Partai Allah dan Partai syetan (Hizbullah dan Hizbussyaithan). Yang satunya tak kalah lucu berkata: pintalah (cintai) surga kepada Allah, pintalah (cintai) Rasul dan pintalah (cintai) Prabowo-Sandi. Saingnya membalas tak kalah seru: pilih Jokowi masuk surga, pilih mereka masuk neraka. Agama dibawa pada wilayah marah, aroma benci dan permusuhan. Sama sama muslim, berbeda pilihan politik, bermusuhan.

Inilah Pilpres yang sama dari lima tahun yang lalu. Olahan kata dan pikiran serupa. Saling bersaing dengan apapun termasuk menjual tiket surga dengan harga murah sesuai kebutuhan. Agama menjadi alat untuk melegitimasi dan men-delegitimasi sekaligus, bergantung selera pasar konstituen.

Sejak awal saya tak suka jika agama dijadikan alat politik, sebab hanya akan membuat keruh dan rancu. Umat Islam babak belur karena poitiik. Bahkan ketika perbedaan manhaj juga dibawa-bawa, pasti hasilnya sangat buruk. Kisah masa kelam politik Islam mestinya menjadi pelajaran, sayangnya kita mudah lupa kemudian mengulang pada hal yang kurang lebih sama.

*^^*
Sejarah perpecahan umat Islam lebih karena politik dan itu sudah mulai kita rasakan saat sekarang. Kemarin perbedaan hanya pada NU dan MUHAMADIYAH. Lebih kepada soal-soal: ushali, qunut subuh atau bacaan sayyidina pada tahiyat atau tahlil dan Yasin untuk orang meninggal.

Sekarang bertambah. Ada NU pendukung Prabowo dan ada yang dukung Jokowi. Pun dengan Muhammadiyah, ada yang dukung Prabowo dan tidak sedikit yang milih Jokowi dengan berbagai alasan dan argumen, keduanya bersaing dan masif. Perdebatan kecil-kecil mulai nampak dan itu sangat mengganggu. Saya kawatir bila perbedaan pilihan politik juga akan terus berlangsung masif hingga merembet pada soal-soal lainnya dan itu sangat memungkinkan.

Sebab saya tak yakin disparitas dan polarisasi pilihan bisa berhenti setelah Pilpres selesai. Ongkos nya sangat mahal. Persyarikatan menjadi pertaruhan, apa ada jaminan setelah Pilpres selesai semua bisa kembali akur. Atau malah sebaliknya pertarungan dilanjutkan pada ring yang lebih kecil. Dan menjadikan sansak teman sering. Sisa-sisa perselisihan karena beda pilihan politik akan terus di bawa. Semoga tak benar … dan berharap Pilpres segera berakhir karena aku tak lagi ingin beli tiket surga pada Pilpres yang sama … ”

*Ketua Majelis Ulamq Indonesia dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here