Komunitas Padhang Makhsyar #203: Perang Selalu Diawali dengan Bakar Simbol

0
90
Pembakaran bendera yang ada tulisan tauhid diambil dari riaurealita.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ada baiknya kita jernih berpikir. Colling Down kita biasa menyebutnya. Merendahkan suara, pikiran dan hati. Atau berbicara sambil duduk atau mengambil air wudhu, kemudian berbaring ke sebelah kanan agar tak mengambil keputusan di saat marah. Demikian junjungan kita Nabi saw memberi nasehat kepada kita agar tidak dimakan marah.

Bertindak di saat marah sering membuat sesal di belakang. Ada puluhan bahkan ribuan kali terjadi sesal karena keputusan diambil di saat marah ada di puncak. Janganlah marah bagimu surga kata baginda nabi suatu ketika.

Tapi siapa bisa kendalikan marah. Sebab itulah orang kuat bukan mereka yang berotot kawat atau yang bisa mengangkat beban ratusan kilo tapi kuat itu adalah siapa yang bisa kendalikan hati saat emosi menahan geram yang sangat.

*^^*
Berpikir sejenak dengan jernih. Dari dua mainstream yang amat sensitif dan krusial. Membakar bendera tauhid dan membakar bendera HTI yang bersimbol kalimat tauhid. Memang sulit dibedakan tapi itu jelas sangat berbeda.

Saya yakin setiap umat Islam bersyahadat dan berikhitiar menegakkan kalimat tauhid. Setiap muslim punya kewajiban itu tanpa syarat. Kalimat tauhid adalah simbol utama bagian dari keyakinan yang paling prinsip. Sebab berhubungan langsung dengan aqidah. Tindakan membakar kalimat tauhid bisa dimaknai sebagai pengingkaran, pelakunya bisa dihukumi kafer atau murtad tanpa khilaf.

Menjadi berbeda ketika kalimat tauhid dijadikan simbol bendera (Liwa Rayah) satu kelompok pergerakan. Dalam hal ini HTI yang terinspirasi menjadikan kalimat tauhid sebagai simbol pergerakan untuk mengganti bendera merah putih. Maka bendera merah putih dan bendera HTI yang bersimbol kalimat tauhid menjadi sejajar. Kontek berpikirnya adalah bendera HTI akan mengganti bendera merah putih. Itu yang kemudian dilawan oleh BANSER dan kawan kawannya. BANSER sedang tidak membakar kaiimat tauhid tapi sedang membakar bendera HTI yang menjadikan kalimat tauhid sebagai simbol.

*^^*
Bagi BANSER, HTI adalah gerakan makar atau Bughat yang tidak saja bakal mengganti bentuk negara tapi juga simbol negara semuanya termasuk bendera merah putih, Pancasila dan UUD 45. HTI adalah musuh NKRI.

Sudah pasti tujuan HTI mendirikan Khilafah Tahririyah termasuk bughat. Setiap kegiatan dan atribut yang mengarah kepada bughat dihukumi haram. Sesuai kaidah ushul fiqih yang juga diadopsi HTI yang berbunyi: al-washilatu ila harami muharramah aw haramun.

Langkah BANSER membakar bendera HTI yang bersimbol kalimat tauhid mendapat pembenar saat khalifah Ustman bin Affan membakar Al Quran pada saat perang Irminiyyah dan Adzraabijaan saat itu Hudzaifah bin Yaman mendapati banyaknya perbedaan pendapat, konflik dan selisih diantara para sahabat dalam membaca Al Quran.

Langkah khalifah Ustman didukung Sayidina Ali dengan berkata: ‘Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177).

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘awashim minal qawashim: 80)

*^^*
Saya mafhum, tentu banyak pertanyaan apakah analog yang dugunakan itu relevan dengan kondisi saat sekarang atau sebaliknya. Apakah yang dilakukan BANSER dengan membakar atribut bughat adalah bagian dari menjaga maslahat yang lebih besar atau sebaliknya.

Setidaknya tulisan ini hanya mencoba mengantarkan kita berpikir dari perspektif lain dan tidak larut terjebak pada : bakar bendera tauhid… .. bukan bakar bendera HTI yang ada simbol kalimat tauhid .. sebagaimana dua bendera bersimbol tauhid juga saling membunuh di Afghanistan antara Taliban dan Mujahidin .. bukankah keduanya juga bersimbol kalimat tauhid yang sama .. lantas kenapa saling berperang jika ingin tegakkan syariat Islam yang sama .. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here