Komunitas Padhang Makhsyar #207: Politik Hitung Cerdas: HTI Vs Banser

0
102
Foto cuplikan film battel Los Angeles diambil dari Digital Trends

KLIKMU.CO

Oleh:Kyai Nurbani Yusuf*

Bersyukur pula temanku usaha sablon ordernya laris manis, pesanan bendera, topi dan kaus bertulis kalimat tauhid naik dua kali .. semua memang ada berkah termasuk teman-teman HTI yang tak lagi harus bersusah mengibarkan benderanya sebab sudah dikibarkan dimana-mana tanpa dilarang seperti sebelumnya .. meski HTI juga harus merelakan bendera yang selama ini diklaim hanya milik kelompoknya menjadi milik publik … berpolitik memang harus cerdas … selamat .. “.

*^^*
Semua akan mendapat apa yang di niatkan. Apakah hijrah karena wanita yang hendak ia kawini atau hijrah karena Allah dan RasulNya. Mungkin sedang berkerumun untuk sesuatu yang terlihat sama tapi siapa bisa mendeteksi niat masing masing orang. Tidak Hijrah atau Badr, Uhud atau lainnya semua terpulang pada niat masing-masing.

Seorang hijrah karena perempuan yang hendak ia nikahi. Seorang jihadis karena ingin dipanggil mujahid, ahli Uhud karena ghanimah, seorang santri karena ingin disebut alim. Seorang ziarah ke Mekkah dan Madinah karena ingin bergelar haji atau apapun perbuatan bergantung kepada niat.

*^^*
Bahkan membakar dan membela bendera bertulis kalimat tauhid juga bergantung pada niat masing-masing sebab keduanya sama-sama muslim dan beriman. Lantas siapa berhak sebut paling benar. Apakah yang membakar atau yang terlihat membela.

Alasan membakar juga berniat membela. Sebab tak rela jika kalimat tauhid dipergunakan pada niat jahat yang disembunyikan. Makar dibalik simbol bendera bertulis kalimat tauhid itu yang dibakar. Bukan membakar kalimat tauhid. Membakar bendera salah satu ormas terlarang yang bersimbol kalimat tauhid adalah upaya menjaga persatuan agar negara tidak terpecah. Begitu alasan bagi yang membakar.

Tapi apa harus dengan cara membakar ? Apakah tidak ada cara lain yang lebih santun. Apakah kita harus membakar masjid ketika ada penista agama berlindung masuk di masjid. Apakah karena bendera bersimbol tauhid dipergunakan oleh ormas terlarang maka bendera bersimbol tauhid menjadi halal di bakar. Apakah ormas terlarang itu menjadi penghalalan untuk melenyapkan atribut-atribut bersimbol tauhid.

*^^*
BANSER kurang bersabar dan berhasil di profokasi hingga harus bakar bendera tauhid yang di kira bendera HTI. Atau membakar bendera HTI yang d tauhid kan . Tapi itulah intrik dan inviltrasi. BANSER mungkin banyak anggota tapi tak punya kecakapan untuk urusan yang satu ini dan HTI ahlinya. Meski terlihat kecil, HTI punya jaringan luas di berbagai negara. Ikhtiar menjadikan BANSER sebagai publik enemi sedang berlangsung. Di cap sebagai pembakar bendera tauhid. BANSER harus di bubarkan pun di gelar. Berbagai skenario berkembang liar entah siapa yang buat.

Ketika agama dan politik bertaut, politik tak jadi bersih oleh agama, tapi agama dicemari politik. Dalam agama apa saja, di negeri mana saja.” Kata GM suatu ketika.

Pembakaran bendera tauhid pasti akan menjadi picu lahirnya politisasi agama. Bahkan mungkin lebih dahsyat dibanding penistaan agama oleh Ahok. Tinggal bagaimana bisa kembali mengemas dan merangkai menjadi sebuah alat untuk menggerakkan massa. Berbagai skenario digelar. Siapa menjadi alat siapa. Siapa harus jadi martir. Aksi bela kalimat tauhid barangkali menjadi alternatif setelah isu SARA sempat tenggelam beberapa waktu karena ada calon Wapres yang berlatar belakang ulama.

Pelajaran berharga bagi siapapun agar tak menyinggung simbol-simbol agama karena rentan bisa sulut emosi. Konflik horizontal antar umat Islam semoga tidak terjadi. Sebab Islam juga yang bakal merugi. Mungkin tabayyun dan saling menahan diri, syukur bisa bertemu dan ngopi bareng itu lebih baik daripada terus mengumbar pernyataan atau sikap profokatif lainnya.
Wallahu a’la

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here