Komunitas Padhang Makhsyar #208: Ketika Agama Menjadi Sangat Politis

0
100
Foto karikatur religiuon and politic diambil dari Islami.co

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ada sebagian kecil yang kurang bersabar menganggap MUHAMADIYAH terlalu lembek, kurang taji menyikapi berbagai soal politik. Tapi MUHAMADIYAH tetap lurus di jalan tengah. Mengurai konflik bukan larut menjadi bagian dari konflik. Muhammadiyah adalah guru bangsa. Bersikap adil terhadap semua.

*^^*
Menarik disimak pernyataan Ketua PP MUHAMMADIYAH KH Haidar Nashir: “Muslim yang baik adalah muslim yang berilmu dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Bukan yang sedikit-sedikit meneriakkan Allahu Akbar. Untuk sesuatu yang sebenarnya sangat politis bukannya religius”. Masih menurut Ustadz Haidar, Fenomena radikalisme menjadikan posisi NU, Muhammadiyah dan mayoritas Muslim Indonesia yang moderat menjadi sangat penting serta perlu memperkuat posisi muslim moderat di masyarakat”.

Sejak awal berdiri MUHAMADIYAH bukanlah kelompok radikal atau yang memahami Islam dengan jumud. Kyai Dahlan menawarkan tajdid yang berarti pembaharuan dan kemoderenan, bukan Islam fundamentalis, melawan kemapanan atau oposan atau sebaliknya lebih mengedepankan pada urusan kematian. Hidup esoteris meninggalkan dunia karena dianggap tidak penting.

Pemahaman keagamaan Kyai Haji Ahmad Dahlan sangat berbeda dengan ulama kebanyakan. Ke-Islaman dan ke-moderen-an yang di usung dalam konsep pergerakan yang dibangun yang kemudian dikenal dengan Muhammadiyah adalah konsep Islam masa depan yang ramah dan santun. Muhammadiyah menjadi tenda besar bagi semua anak bangsa dengan berbagai aliran dan ideologi. Fungsi waratsatul
Anbiya sebagai gembala yang merawat perbedaan.

*^*
Muhammadiyah sejak awal adalah gerakan kooperatif terhadap kompeni meski dengan tidak meninggalkan ruhul jihad. Maka pilihan Kyai Dahlan bukan mengangkat senjata melawan kompeni tapi pembaharuan pemikiran Islam. Harakah amar ma’ruf nahy munkar. Melawan takhayul bid’ah dan khurafat. Semangat inilah yang di usung Kyai Dahlan ketika menggagas Persyarikatan.

Tesis Kyai Dahlan adalah kekalahan umat Islam karena Islam tertutup oleh kebodohan umat Islam sendiri (Al Islam mahjubun bil muslim). Islam menjadi jumud, kaku dan terbelakang karena pemahaman umat Islam yang keliru tentang Islam. Maka tajidId MUHAMADIYAH adalah antitesis terhadap kondisi umat Islam yang jumud.

Tugas berat ketua Persyarikatan ditengah amuk dan ghirah. Kapal besar Persyarikatan harus tetap ditengah. Lurus di jalur pergerakan sebagaimana di cita-citakan Guru Agung Muhammadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan.

*^*
Pergerakan ini tak boleh terbawa arus apalagi tenggelam di pusaran konflik kepentingan politik praktis. Juga menjaga dari semangat sektarian pengurusnya, ada sebagian yang tergoda dengan gerakan di luarnya. Polarisasi tak bisa dihindari bahkan ada yang mencoba menyeret kapal besar Persyarikatan di tengah arus konflik kepentingan politik praktis. Dengan tidak menyebut nama tapi aroma itu jelas terlihat. Beberapa aktifis dan tokoh MUHAMMADIYAH tergoda kemudian berusaha membawa kapal besar di pusaran konflik.

Dengan tidak menafikkan ghirah jihad umat Islam melawan kemunkaran dan hegemoni orang non Islam, MUHAMMADIYAH terus berikhtiar. Semangat ruhul jihad telah teruji ketulusan dan kejujurannya dalam menegakkan syariat Islam. Satu abad bukan kurun yang singkat. Dibanding gerakan-gerakan sporadis yang mungkin terlihat gemerlap dan riuh tapi sesak dengan kepentingan, uang dan diakhiri bagi-bagi jabatan.

*^*
Kesus mahar politik calon gubernur jatim yang gagal, menjadi bukti ketulusan yang pudar, meski mengatas namakan Islam tetap saja mempraktekkan politik dagang sapi alias transaksional. Dan itu yang sedapat mungkin dihindari MUHAMMADIYAH.

Politisasi agama kian menguat. Simbol dan jargon menjadi alat paling ampuh untuk menggerakkan umat. Takbir dan simbol bendera yang bertulis kalimat tauhid salah satunya. Pengerahan massa dan mobilisasi umat hanya untuk melegitimasi ketokohan seseorang. Menjadi bias apakah kita sedang memperjuangkan untuk tegaknya syariat Islam atau memperjuangkan tegaknya syariat Islam demi kekuasaan seseorang.

Tak ada larangan memekik takbir atau mengibarkan bendera, mengenakan kaus, topi atau bahkan memakai sendal bertulis kalimat tauhid tapi menjadi sangat tidak patut ketika dipakai menjadi alat untuk menjustifikasi sebuah kepentingan dan gagasan yang sangat politis. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here