Komunitas Padhang Makhsyar # 212: Skenario Benturkan Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama

0
155
Penyejuk Bangsa: Foto Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama berswa foto diambil dari facebool

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Silaturrahim Ketua Umum PP MUHAMADIYAH dan Ketua Pengurus Besar NU, menutup celah titik konflik yang hendak ditaburkan. Berbagai skenario pun batal.

*^^*
Inilah pilihan Presiden paling panas dengan suhu politik yang terus meninggi, saya tak ingin menyebut siapa penyebabnya. Hanya sekedar analisis ringan dengan meminjam teori fenomenologis untuk mencandra berbagai peristiwa politik, berikut semua aspek yang menyertai.

Layaknya mengurai benang kusut. Tak jelas benar mana duluan, apakah keinginan memenangi Pilpres untuk mendapatkan kekuasaan atau keinginan tegakkan syariat Islam lewat kekuasaan politik. Yang jelas keduanya telah urap menjadi satu, berkelindan dalam proses berpikir dan subyektifitas masing-masing. termasuk saya tanpa kecuali.

Bermula dari kasus penistaan agama oleh Ahok yang melahirkan demo berjilid-jilid dan di akhiri dengan pilgub DKI yang dimenangi Anis. Penista agama rontok, berakhir di bui. Spirit agama dan politik tumbuh subur bagai energi yang terus terbarukan. Isu-isu sensitif terus dibuat dan di doktrin kan untuk menebalkan semangat jihad melawan yang berbeda. Sebab jihad ternyata tidak ditujukan kepada kaum kuffar tapi bisa kepada saudara seiman yang dikafirkan. Karena beda pilihan politik. Ini awalnya dan terus menggelinding bagai bola api. Membakar dan panas.

*^^*
Sampai tahap ini saya berpikir, ada indikasi membawa agama ke kawasan politik praktis. Isu agama di mainkan begitu riuh, apalagi terbukti efektif menjatuhkan Ahok dan memenangi pilgub DKI. Penistaan agama, kriminalisasi ulama, bangkitnya PKI, partai syetan, kooptasi China dengan puluhan juta tenaga kerja dan kebohongan lain yang sengaja disebar seakan menjadi isu yang gampang memantik marah.

Menjadi semakin hangat ketika dua ormas Islam yang merepresentasi Islam Modern dan Islam Kultural berhadapan head to head pada dukungan yang berbeda. Perang kata tak bisa dihindari bahkan ada gesekan lembut, tapi kontinu atau sengaja diawetkan agar suasana hangat tetap terjaga.

Meski kedua ormas berkali-kali menyatakan netral, tapi tak cukup bukti. Nyatanya Rais Syuriahnya terjun langsung menjadi calon Wapres. Pun dengan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah dan Ketua Umum Pemuda Anshar berhadapan langsung. Kita tak lagi bisa seksama secara obyektif menyimak, apakah pernyataan dan sikap keduanya obyektif sebagai ketua pemuda atau jubir tim kampanye nasional, semua bias politik. Belum lagi tokoh-tokohnya yang lain, yang secara terang-terangan mendukung dengan ujaran dan bentuk lainnya, memberi justifikasi bahwa kedua ormas besar itu sedang bermain politik tingkat tinggi.

*^^*
Saya melihat kedua mainstream Islam modern dan Islam kultural berada di balik pasang capres itu, meski dengan segala macam cara ditampik, tapi tak cukup kuat menghalangi dugaan keduanya sedang memberi dukungan.

Kedua ormas juga sedang membangun ketakutan atau hantu yang sengaja diciptakan. NU takut Islam garis keras memimpin. MUHAMADIYAH takut Islam kultural berkuasa karena akan memberi ruang kepada kaum abangan bahkan komunis tumbuh subur. Ironisnya dua ketakutan itu ditabalkan kepada dua pasang capres yang sedang berkompetisi.

Silaturahim dua Ketua Umum ormas terbesar di Indoenesia yang diakhiri dengan pernyataan bersama itu bukan tanpa sebab. Ada soal besar tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang penting dan krusial yang sedang mengancam. Pada akhirnya kita memang harus saling menahan diri untuk tidak melihat dari sisi buruk … beda pandang tidak harus dianggap sama dengan musuh tapi kawan seperjuangan .. kadang dilewati, kadang didekati, kadang dipuji kadang diremehkan. Pernah pula hendak dibubarkan. MUHAMADIYAH dan NU telah membuktikan pahit getirnya menyokong negeri .. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here