Komunitas Padhang Makhsyar #214: Kyai Ahmad Dahlan Jaman Baru

0
103
Foto sang pencerah diambil yanuarty paresma wahy

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Dalam buku Muhammadiyah menyogsong abad XX disebutkan tentang Soegardo Poerbakawatja (Rektor dan salah satu pendiri UI) salah satu murid Kyai Dahlan di sekolah STOVIA milik kompeni Belanda pernah bertanya Bolehkah saya shalat dengan bahasa yang saya mengerti ? Boleh Jawa kyai Dahlan .. kemudian beliau memberi argumen rasional kepada muridnya yang akhirnya tetap menggunakan dengan bahasa aslinya.

*^^*
Jangan lupa para foundhing father kita adalah para ulama didikan pesantren. MUHAMADIYAH generasi “salaf” adalah para santri, mengaji kitab kuning, belajar nahwu dan sharaf, balaghah, tafsir, manthiq, kalam, tasawuf dan semua pengajaran di pesantren tanpa sisa. Mereka juga belajar tentang adab dan prilaku santun terhadap gurunya. Mereka juga mengenakan sarung, kopyah dan baju taqwa.

Muhammadiyah generasi awal semuanya santri, menyandang gelar kyai, bukan profesor, doktor atau sederet gelar akademik lainnya produk dari kampus. Generasi awal menggunakan literasi Arab dan Jawa. Dalam dakwah dan pengajarannya menggunakan bahasa lokal.

Sinergi antara santri didikan pesantren, priyayi Jawa, bangsawan Kraton dan saudagar. Membuat wajah MUHAMADIYAH dikenal elit.

Semangat MUHAMADIYAH di awal adalah purifikasi ajaran Islam yang lekat dengan paham lokal yang merusak takhayul, bid’ah dan khurafat. Sebagaimana Tesis Syaikh Abduh Al Islam Mahjubun bil muslimiin,

Yang kedua adalah semangat modernisasi, Islam kemadjoen yang fleksibel dan tidak ketinggalan jaman. Sebab itulah Kyai Dahlan kemudian banyak mengadopsi sistem pendidikan barat dalam sistem pendidikan MUHAMADIYAH yang kelak dikembangkan.

Yang ketiga semangat moderasi, sejak awal MUHAMADIYAH bukan oposan terhadap penguasa apalagi mengambil posisi berhadapan tetapi sebagai mitra. Kyai Dahlan lahir dan besar di lingkungan keraton, keluarganya sebagai penghulu dan ketib keraton, adalah orang yang berada di pusat episentrum kekuasaan tanah Jawa. Bahkan dengan kompeni Belanda sekalipun Kyai Dahlan mengambil jalan kooperatif. Beliau juga mengambil subsidi untuk sekolah yang didirikan dari Pemerintah Belanda.

Yang keempat semangat ke-Indonesia-an, adalah Islam yang arif dengan budaya dan adat setempat sepanjang tidak melawan kemurnian ajaran Islam. Beliau suka musik dan berpakaian adat Jawa kental. Beliau juga ajarkan cinta tanah air.

*^*
Di kemudian hari MUHAMADIYAH dikenal sebagai kelompok Islam menengah atas. Islam terdidik atau Islam priyayi. Cenderung elitis dan tidak mengakar. Ada pergeseran pemikiran dan arah pergerakan. Keberanian Kyai Dahlan masuk pada wilayah tabu sekolah-sekolah priyayi, Kweek School dan Stovia sangat menarik.

Kyai Dahlan hendak mengangkat kembali marwah Islam yang selama ini direndahkan kalangan priyayi Jawa. Bahwa Islam itu tinggi, mulia dan sesuai dengan ke-modern-an, itu yang harus diperhatikan. Meski harus ditukar dengan fitnah sebagai kyai kafer.

Menggelorakan kembali semangat awal ber-MUHAMADIYAH seperti yang digagas Kyai Dahlan di awal pergerakan sangatlah utama. Terus dilestarikan dan di sampaikan pada setiap halaqah. Semangat tajdid dan perubahan. Islam kemadjoen. Yang tak pernah berhenti berpikir dan beramal dengan semangat tajdid. Menghargai kebebasan dan menghargai perbedaan. Bukan Islam dengan wajah kaku lagi menyeramkan … Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang menggembirakan kata Pak AR Fakhrudfin suatu ketika, Wallahu a’lam

*Penggiat Muhammadiyah dan Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here