Komunitas Padhang Makhsyar #216: Harusnya Negara Berterima Kasih Kepada Muhammadiyah

0
86
Foto logo dan tema resmi Milad Muhammadiyah 2018 diambil dari muhammadiyah.or.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Berdiri 33 tahun sebelum proklamasi. MUHAMADIYAH mengemban peran negara yang diabaikan ketika kompeni masih kukuh berkuasa. Sebagai pergerakan Islam di awal sebelum merdeka tidak sedikit peran negara yang diambil. Sebut saja: Pendidikan, kesejahteraan, dan layanan publik menjadi bagian penting yang melekat dalam diri pergerakan MUHAMADIYAH.

Carl Whyterington menyebut bahwa Kyai Dahlan bukan hanya sebagai ulama biasa tapi beliau juga seorang pragmatikus agama yang briliant. Bukan hanya sekedar kata, tapi Kyai Dahlan memberi uswah bagaimana menjadikan Islam sebagai alternatif yang solutif.

Pilihan gerakan yang cerdik sekaligus strategis untuk membangun image bahwa Islam adalah agama yang relevan dengan jaman bukan hanya sekumpulan ajaran untuk orang mati. Al Islamu ya’lu wala yu’la alaih. Menjadikan Islam modern yang paham masa depan.

*^^*
Tesis Syaikh Abduh Al Islam mahjubun bil muslim menjadi daya dorong yang ampuh untuk membuat pergerakan MUHAMMADIYAH semakin trengginas. Dimana mana MUHAMADIYAH mendapat pujian, organisasi modern pun ditabalkan. Dan menjadi inspirasi bagi pergerakan Islam di tanah air dan Asia..

Pada saat negara tidak hadir. Ada ruang kosong yang kemudian di isi oleh MUHAMMADIYAH. Inilah menariknya. Kehadiran MUHAMMADIYAH bukan sebagai suplemen tapi hadir dan menjadi kunci keberpihakan terhadap kemiskinan, kebodohan, ketidak adilan dan ancaman Krestenisasi atau pembaratan yang dilakukan kaum fremansory.

Sebab kecerdasan Dahlan, Islam di Indonesia kembali dihitung yang sebelumnya direndahkan sebagai orang jumud yang kolot. Muhammadiyah menjadi semacam orang tua bagi sebagian besar umat Islam kala itu yang terpuruk yatim sosial dan yatim ekonomi.

*^^*
Ada dua mainstream yang perlu kita pahami:

Pertama, peran MUHAMADIYAH pada saat sebelum dan awal kemerdekan mennggantikan peran negara dalam hal pendidikan, kesehatan dan layanan sosial lainnya. Bahkan MUHAMADIYAH menjadi satu satunya ormas yang melawan politik ordonantie Hadji. Peran ini bwgitu dominan karena negara sibuk. Dan tak cukup waktu, maka MUHAMMADIYAH hadir mengambil peran.

Kedua peran MUHAMMADIYAH ketika negara sudah hadir.
Dalam konteks ini kewajiban menyelenggarakan pendidikan, kesehatan dan layanan publik lainnya perlahan sudah diambil kembali oleh negara. Maka perlu ada semacam rekonstruksi pergerakan, sebab persaingan kita sekarang adalah dengan negara bukan dengan sesama ormas.

Peran strategis inilah yang layak digagas ulang oleh para penggiat MUHAMMADIYAH sebagai bahan pikir tajdid jilid 2 .. semoga Allah tabaraka wataala memberkati .. aamiin

*Aktivitis Muhammadiyah dan Pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here