Komunitas Padhang Makhsyar #219: Muhammadiyah Membuktikan Bahwa Politik Bukan Segala-galanya

0
104
Foto logo resmi milad tahun 2018 diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

108 tahun bukan waktu yang pendek. 33 tahun hidup di masa kompeni, pemerintahan Kresten yang represif, ordonantie Hadji, Krestening politik dan Fremansori, 22 tahun masa Orla, manis dan getir, demokrasi terpimpin dan pengaruh negatif partai komunis, bahkan sempat hendak dibubarkan. 32 tahun masa Orba, rezim militer, monolitik, monoloyalitas dan azas tunggal. 20 tahun era reformasi, demokrasi, liberalisasi politik, ekonomi dan ideologi trans-nasional.

Muhammadiyah terus tumbuh membesar tanpa sokongan partai politik atau penguasa yang memback up. Jamaah menjadi kekuatan ampuh bahwa politik tak serta merta membuat Persyarikatan membesar. Carl Whiterington bahkan menyebut MUHAMMADIYAH sebagai organisasi yang diberkati. Jika ormas yang lain menjadi parasit penguasa, tidak bagi MUHAMMADIYAH. Pantang berserah diri kepada selain Allah

Tidak ada satu bukti sejarah atau riset yang menyebut bahwa MUHAMMADIYAH besar karena sokongan partai politik, kuat karena dukungan seorang anggota legislatif atau seorang senator. Jadi jangan pernah mengabaikan kerja keras jamaah akar rumput, sebagai The real MUHAMMADIYAH. Merekalah soko guru MUHAMMADIYAH yang menghidupkan dengan berbagai amal saleh. Jadi, MUHAMMADIYAH tidak pernah menggantungkan kepada penguasa atau rezim atau politisi apalagi senator. Baik dalam kepolitikan maupun lainnya. Tidak Soekarno, tidak Soeharto. Tidak SBY, tidak Prabowo, tidak Jokowi.

*^^*
Pasca Reformasi, Kuntowijoyo sudah mengingatkan agar energi umat Islam jangan semuanya dicurahkan pada politik praktis. Karena jika itu terjadi, maka potensi umat yang luar biasa dalam bidang lain, menjadi tidak berkembang. Lebih jauh dalam buku Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia, Kuntowijoyo mengatakan, “saya cenderung melihat politik bukan sebagai determinant dalam proses sejarah yang panjang ini. Ia bukan faktor yang menentukan. Kekuatan politik tidak selalu menentukan segala-galanya”.

Langkah kecil yang bisa kita lakukan berupa sikap menghargai teks, buku atau kitab. Dan berupaya bersikap terbuka terhadap semua jenis ilmu, dan bersikap menghormati berbagai pandangan yang berbeda dengan pandangan kita. Jika warna Islam politik identitas lebih dominan di sekujur tubuh negeri ini, tanpa diimbangi kehidupan tradisi intelektual Islam, bisa jadi agama Islam tak lagi menjadi perekat bangsa, namun justru menumbuhkan benih perpecahan sosial. Tentunya kita semua tak menghendaki perpecahan dan keretakan sosial menimpa negeri ini.

*^^*
Nur Cholish Madjid atau Cak Nur pernah menulis: ‘Cobalah kita renungkan apa makna kenyataan sejarah sederhana ini: Ketika Imam Al- Ghazali menulis karya yang ditujukan untuk mengkritik  para filsuf muslim, khususnya Ibn Sina. Indonesia, khususnya tanah Jawa, di masa Raja Jayabaya. Hari ini kita mewarisi karya Imam Al Ghazali yang luar biasa dari sisi intelektual, baik dalam Ihya Ulumudin, tahafut Falasifah, dan juga karya-karya lain. Dan dari Raja Jayabaya kita mewarisi “Jangka Jayabaya”.

MUHAMMADIYAH besar dan eksis karena intelektualitas dan dedikasi para penggiat dan jamaahnya. Pantang bagi penggiat MUHAMMADIYAH berserah diri kepada selain Allah …

*Penggiat MUHAMMADIYAH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here