Komunitas Padhang Makhsyar #221: A Man Called Ahok Vs Hanum dan Rangga

0
132
Foto Ini bukan hanum dan rangga tapi rukiyem dan hakim diambil dari dokumen pribadi lisyi'

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Aroma pertengkaran pun merambah pada dunia perfilman, dunia yang seharusnya bersih dari urusan politik itu, harus rela di jamah. dibagi bagi menjadi dua kubu. Ada instruksi nonton film dari salah satu partai dan ada pula larangan jangan nonton film ini dengan alasan karena begini dan begitu. Saya penyuka film maka saya nonton keduanya sekaligus tanpa alasan politik bukan pula karena instruksi sebuah partai. Ini murni soal hobi dan itu privasi, tak ada urusan dengan politik.

*^^*
Sejak dirilis perdana serentak pada 8 November lalu, kedua film Indonesia A Man Called Ahok dan Hanum & Rangga bersaing ketat memperoleh penonton di akhir pekan pertama mereka.

Namun berdasarkan data terbaru yang dirilis masing-masing studio, Senin (12/11), film A Man Called Ahok berhasil mengungguli Hanum & Rangga dengan capaian 587.747 tiket terjual.

Kedua film tersebut bersaing ketat sejak dirilis bersamaan pada 8 November lalu. A Man Called Ahok tercatat berhasil menjual sekitar 103 ribu tiket atau diasumsikan mendapatkan sekitar Rp3,6 miliar.
Sedangkan film Hanum & Rangga diketahui berhasil menjual 45 ribu tiket atau diasumsikan mendulang Rp1,5 miliar

*^^*
Kita digempur politik identitas. Berebut soal bendera. Soal tempe setipis ATM atau soal-soal lain yang tidak penting. Mulai dari politik sontoloyo, politik genderuwo. Indonesia bakal bubar, tampang Boyolali, hoaks Sarumpaet dan lain-lain yang menggelikan. Yang tak jelas benar kemana bangsa ini mau dibawa. Lantas ada yang bilang:’jangan malu bicara politik identitas ..,ya kalau tak punya malu lakukan semau mu kata nabi saw.

Rakyat diabaikan dan tak ada yang solutif, semua politisi hanya bersoal tentang kekurangan lawan yang dianggap sebagai musuh. Politik identitas adalah menciptakan lawan untuk dimusuhi, kalau gak ketemu juga, maka sesama teman akan dibuat lawan. Yang penting ada yang dipertengkarkan. Sebab semua hanya konsen pada kekuasaan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat berubah menjadi tujuan. Maka segala cara dilakukan yang penting tujuan tercapai. Tapi marah saat dibilang machiavelis padahal sejatinya memang iya. Bahkan lebih ngeri sebab tak malu gunakan agama dan firman Tuhan untuk mencapai tujuan. Hal mana, Machiaveli yang dicap sebagai bandit politik saja tak berani.

Berdebat yang begituan berhari-hari tanpa solusi. Para ulama, ekonom, failasuf, budayawan urap menjadi satu karena semua menjadi politisi dadakan. Ulama politisi. Ekonom politisi. Failasuf politisi. Budayawan politisi. Apa yang didapat dari para politisi. Kegaduhan. Karena politisi bukan pengambil kebijakan yang baik. Jadi rakyat jangan pernah harap ada perubahan. Sebab tak ada yang tulus membela.

*^^*
Di gedung bioskop pun kita harus rela dikelompokkan pada pilihan politik tertentu. Ini kejahatan politik saya bilang. Political Crime. Politik memang rakus termasuk tiket film pun harus dicap dengan stampel politik, tapi sayangnya aku tak perduli, aku sudah nonton keduanya tanpa kata saya adalah …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here