Komunitas Padhang Makhsyar #223: Dibutuhkan Hitler untuk Rakyat yang Banyak Ucap

0
64
Foto Adolf Hitler diambil daro History on the net

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kita butuh Hitler atau Mussolini bukan pemimpin yang selalu minta maaf untuk kesalahan yang tak sengaja dibuat. ‘Kalian miskin ! kalian bodoh! kalian bakal mati diinjak injak musuh .. maka ikutlah perintah saya ..”. kata Hitler dalam pidatonya yang riuh untuk melawan Amerika dan sekutu-nya.

*^^*
Sering minta maaf bukan tanda baik bagi seorang pemimpin sebab ia adalah tanda melakukan salah dan tak yakin pada dirinya. Sebab itulah kaisar Hirohito mengaku sebagai putra matahari agar luput dari cela dan tak perlu minta maaf. Kaisar selalu benar. Sedang kekurangan dan kesalahan milik rakyat. Upacara Sakkerrei adalah sebentuk permohonan maaf pada kaisar agar tahun depan rijekinya tidak dibekukan. Pemimpin harus keras dan tak boleh salah.

Pemimpin memang harus keras sebab peluang bicara hanya melahirkan pertengkaran. Musyawarah tak pernah mufakat. Para politisi lebih suka intrik ketimbang mufakat untuk maslahat. Pemimpin yang keseringan mendengar biasanya tak melakukan apa-apa selain riuh di konsep dan wacana. Aspirasi tak harus selalu di dengar.

Pemimpin yang baik adalah yang keras hati, teguh pendirian dan berani bilang tidak pada rakyatnya yang tak paham. Atau intrik para badhut dan politisi pencari makan. Pemimpin harus mengatur semuanya sebab rakyat biasanya tak pandai mengatur diri bahkan sekedar hemat listrik saja bisa atau buang sampah di sembarang tempat.

Pemimpin butuh cemeti untuk para pemalas yang suka omah tapi pecus bekerja atau tongkat untuk penanda pada mereka yang selalu salah langkah meski kerap bertanya. Pemimpin juga tak perlu minta maaf sebab itu adalah penanda lemahnya pendirian dan tak yakin dengan dirinya.

*^^*
Imam Al Ghazali berkata seandainya orang-orang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan diantara manusia”. Ruwaibidhah adalah sekumpulan bodoh yang nimbrung ngurus soal besar. Bagaimana mungkin orang-orang tanpa keahlian itu bicara tentang utang luar negeri, keadilan, hidup sejahtera dan masa depan bangsa.

Tunggu saja hancurnya bila urusan besar diserahkan pada yang bukan ahlinya. Siapa bilang semua manusia itu sama. Lantas kenapa para nabi tidak dilahirkan pada sembarang perempuan, juga tak sembarang perempuan boleh jadi ibu asuhnya. Mestnya para pemimpin juga sama.

Dari Amr bin Syuaib, Nabi saw bersaba: Akan datang pada manusia suatu zaman di mana mereka akan dipilih, hingga yang tersisa dari mereka hanyalah orang-orang yang hina, perjanjian-perjanjian dan amanah mereka telah bercampur (tidak menentu), dan mereka berselisih, maka mereka seperti ini.” Beliau merenggangkan jari-jemarinya (menunjukkan keadaan mereka yang saling bermusuhan-ed.).”

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here