Komunitas Padhang Makhsyar #225: Alternatif Paradigmatik: Muhammadiyah dan Dahlaniyah

0
101
Foto pendiri Persyarikatan Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan diambil dari wikipedia

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Membangun citra bahwa Muhammadiyah bukan Dahlaniyah justru melahirkan disparitas paradigmatik yang tidak argumentatif. Sebab memisahkan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah berdampak pada hilangnya spirit gerakan. Meniadakan peran Kyai Dahlan di Muhammadiyah dengan berbagai alasan termasuk menghindari kultus adalah cara pandang absurd yang lemah. Tak perlu paranoid sebab jamaah Muhammadiyah tak akan melakukan itu. Kyai Dahlan dan Muhammadiyah adalah kesatuan utuh yang tidak boleh dipisah, baik ideologis, kultural maupun sosial. Kyai Dahlan adalah Muhammadiyah itu sendiri.

Meminjam konsep Guru Sufi: Ibnu Araby tentang kesatuan, Hubungan Kyai Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah seperti halnya api dengan panas. Angin dengan gerak, es dengan dingin. Atau Jasmani dan ruh nya. Memisahkan berarti menafikkan. Akan mati salah satunya. Kyai Dahlan adalah simbol pembaharuan (tajdid), pemodernan, dan purifikasi sekaligus.

**^*
Kajian paradigmatik ini akan terkesan mundur ke belakang dan terkesan mengulang sejarah yang sudah dibenarkan. Tapi menjadi penting ketika berikhtiar mengurai soal dalam Kitab tepatnya Risalah Fiqh Kyai Dahlan yang memberitakan bahwa paham fiqh Kyai Dahlan adalah ber-mazhab Syafi’i. Membaca qunut shalat shubuh, Sayidina dalam tahiyat, atau shalat tarawih 23 rakaat. Dan amalan-amalan lain yang semisal. Hal mana berbeda dengan amalan warga Muhammadiyah pada umumnya, utamanya setelah berdirinya Majlis Tarjih.

Memang belum ada ditemukan definisi yang rigid apa itu Dahlaniyah dan apa itu Muhammadiyah Pertanyaan mendasarnya adalah, perlukah mendefinisikan itu sebagai diskursus untuk membangun disparitas antara Dahlaniyah dan Muhammadiyah sebagai sesuatu yang tidak sama dan terpisah, hanya untuk menegasi adanya perbedaan amalan peribadatan Kyai Dahlan dengan Muhammadiyah mutaakhir. Dahlaniyah hanya sebatas upaya untuk menunjukkan bahawa Kyai Dahlan tidak sama dengan Muhammadiyah dalam hal amalan fiqh. Saya pikir ini perlu penjelasan yang panjang. Dan tak elok membiarkan konsep Dahlaniyah berkembang liar tanpa dikawal definsi yang rigid apa itu Dahlaniyah..

Sedikit membias dengan apa yang ditulis oleh beberapa orientalis (HJ Benda atau Karen Amstrong) tentang Islam dan Mohammadenisme. Sebab keduanya memiliki karakter yang jauh berbeda. Meski secara teologis Muhammad saw dan Islam juga tidak bisa dipisahkan secara parsial-kualitatif.

*^^*
Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik” tegas Prof Yunahar. “Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah” . Ini pernyataan sekilas benar tapi mengandung dialektik yang saling menafikkan. Bukankah pikiran dan gagasan Kyai Dahlan sendiri yang membuat Muhammadiyah menjadi terbuka dan tidak fanatik. Menjadi modern dengan jargon kembali pada Al Quran dan as sunah.

Jika demikian kenapa dibedakan antara Dahlaniyah dan Muhammadiyah padahal keduanya satu kesatuan utuh. Pikiran dan gagasan Kyai Dahlan itulah yang kemudian menjelma menjadi Muhammadiyah secara otentik dan original.

Bahwa kemudian ditemukan perbedaan antara amalan fiqh Kyai Dahlan dengan warga Persyarikatan setelah lahirnya Majlis Tarjih tidak lantas mereaksi dengan membuat garis demarkasi antara Kyai Dahlan (DAHLANIYAH) dengan MUHAMMADIYAH sebagai dua mainstream yang sama sekali berbeda. Hanya sekedar membuktikan ortodoksi dan menghimpun rasionalitas purifikasi, untuk menyatakan bahwa amalan Kyai Dahlan tak berhubungan dengan Muhammadiyah .. .. Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here