Komunitas Padhang Makhsyar #229: Menyusur Tradisi Santri: Kyai Mas Mansyur Ndresmo

0
147
Foto kyai Mas Mansyur diambil dari Republika

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Setelah tidak di beri makan selama enam bulan di sel tahanan kecuali air. Kyai Mas Mansoer wafat dibunuh oleh tentara Jepang pada usia 49 tahun di tahanan Kali Sosok Surabaya, demikian dituturkan oleh salah seorang cucunya Ibu Nyai Fatimah Zahra binti Kiai Mas Muhajir ibn Kiai Mas Mansur. Beliau mengalami berbagai macam siksaan yang sangat kejam selama di sel tahanan.

Adapun Kyai Mas Ahmad Marzuqi ayahnya, berasal dari bangsawan Astatinggi Sumenep adalah Imam dan khatib tetap di masjid Sunan Ampel, jabatan tertinggi dan prestisius di kalangan santri. Nyai Raudhah, Ibunya dari keluarga kaya raya di pesantren Sidoresmo (nDresmo). Kyai Mas Mansoer memiliki akar tradisi pesantren yang sangat kuat baik dari garis ayah atau ibu.

Lahir pada keluarga kaya, bernashab bangsawan di lingkungan pesantren. Mas Mansoer kecil diperintah belajar pada berbagai pesantren dan guru, mulai dari ayahnya sendiri, kemudian Kyai Muhammad Thaha Ndresmo berlanjut ke pesantren Demangan Bangkalan belajar pada Kyai Khalil yang penuh karamah mendalami Al Quran dan Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Namun hanya dua tahun belajar di pesantren Demangan Kyai Khalil yang karismatik dikenal waskita karena banyak memproduksi santri yang kelak menjadi tokoh pergerakan di Indonesia itupun wafat.

*^^*
Mas Mansoer di perintah pergi haji sekaligus mukim dan belajar kepada Kyai Macfudz Termas Pacitan di Mekkah. Empat tahun di Mekkah Mas Mansoer pindah ke Mesir karena perintah penguasa Arab saat itu, Syarif Husein meski ayahnya tidak bersetuju. Di Mesir ia mengenal dan berguru kepada pejuang nasionalis Syaikh Ibnu Masykawaih. Dari gurunya iniah mas Mansoer mulai mengenal pergerakan Islam melawan penjajahan dengan konsep (hubbul Wathan minal iman) yang menjadi tuh gerakan para santri saat itu.

Sepulang dari Mesir melakukan banyak aktiftas baik di pesantren juga politik pergerakan. Kyai Mas Mansoer mewarisi tradisi pesantren yang kuat, beliau mengasuh dan mengajar di Pesantren An-Najjiyah di Sidoresmo. Akrab dengan kitab kuning dan tradisi pesantren lainnya. Beliau juga seorang jurnalis yang produktif menukis di berbagai media dan penulis beberapa buku. Mendirikan pusat kajian tasfirul afkar bersama kyai Wahab Haabullah meski kemudian keluar karena perbedaan.

Pada pendudukan Jepang Kyai Mas Mansoer menolak budaya (seikkerei-ameterasu) dengan cara membungkuk ke arah matahari saat terbit. Karena penolakan-nya itu Kyai Mas Mansoer dibui di Kalisosok bersama karibnya Kyai Hasyim Asy’ary. Dalam satu sel di kamar berbeda.

*^^*
Tradisi santri Kyai Mas Mansoer begitu kuat, baik dalam cara belajar dan berpikir. Pun dengan model pembelajaran yang beliau lakukan. Pada saat beliau menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah pun beliau manfaatkan dengan membenahi sekolah mu’alimin dan mu’alimat Jogjakarta dimana beliau mengasuh. Para pimpinan Muhammadiyah awal dihuni oleh banyak santri didikan pesantren … tapi sayang warga Muhammadiyah kurang perhatian dengan pesantren. Silaturahim pun putus. Bersyukur bisa bertemu dengan dzuriyah Kyai Mas Mansoer nderesmo .. sekedar bercakap dan berkabar baik .. ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here