Komunitas Padhang Makhsyar #231: Disparitas Reuni 212: Aksi Bela Islam atau Aksi Pilih Prabowo

0
118
Foto bendera merah putih dan bendera tauhid bersanding diambil dari facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai  Nurbani  Yusuf*

Ketika Islam dihina. Pantang duduk berpangku tangan. Santai nonton televisi sambil pegang remote atau bermain gadget diskusi yang tidak berkelas. Allah hendak menguji kita dengan ketakutan kecemasan paceklik dan berbagai kesulitan lainnya. Saat itulah kita diharap memberi yang kita punya terutama harta kemudian nyawa.

Mati syahid adalah kebanggaan sekaligus harapan setiap yang mengaku beriman. Jika sudah di tetap kan tak ada lagi alasan atau alibi untuk tidak hadir. Apapun yang terjadi. Kita akan berlaga hingga syahid menjemput. Inilah cara mati yang paling indah. Dambaan setiap mu’min. Meninggikan Islam adalah keharusan. Memuliakan nya adalah kewajiban baik munfarid atau jamaai.

*^**
Aksi Bela Islam 212 adalah bukti agar musuh bergetar takut. Saya datang dari kampung yang tidak ada dalam peta bahkan mungkin geogle luput melacak, karena Islam di sikut. Kami bersatu berkumpul disatukan oleh niat yang sama dan tulus. Membela marwah Islam tidak ada yang lain. Begitu pula dengan jutaan umat Islam yang lain. Kala itu ketika aksi bela Islam masih bening dan murni.

Maka lapar dan dingin tak mampu menghalang. Kebun dan sawah ditinggal. Ternak dijual untuk bekal perjalanan. Pun dengan istri dan kerabat, ini soal panggilan jiwa. Hanya sekedar hadir show of force bahwa kami umat Islam sangat kuat dan bersatu. Itu yang saya mampu.

Berharap dapat menyusul ahli Badr, ahli Uhud, ahli Khandaq dan para syahid lainnya yang syahid bersama Kanjeng Nabi saw. Mungkin ini salah satu cara agar nabi junjungan berkenan memandang wajah penuh dosa karena kezaliman yang tidak putus putus.

Kami lepas baju manhaj, mazhab, aliran, politik, ras, bahasa atau suku bahkan pangkat dan golongan. Tak ada lagi yang tinggi atau rendah, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak. Kami disatukan oleh izzul Islam yang kokoh itu yang membuat semua menjadi mudah. Di ikat bukhul Islam.

*^^*
Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agamamu dengan menyumbangkan jiwamu. Jiwamu tak usah kau tawarkan, kalau Tuhan menghendakinya entah dengan jalan sakit atau tidak. Tentu kamu akan mati. Tapi beranikah kamu menawarkan harta bendamu untuk kepentingan agama. Itulah yang lebih diperlukan untuk waktu sekarang ini, tutur Kyai Dahlan.

Sayangnya kami lebih sayang harta ketimbang nyawa. Kerap berteriak lantang tapi pelit saat diminta sumbangan untuk panti yatim atau masjid-masjid kami yang mulai lapuk atau donasi untuk guru di sekolah-sekolah kami yang telat gajian. Pada tetangga sebelah yang anaknya tak mampu bayar SPP atau si fulan yang tak mampu tebus resep obat.

Kedatangan kami tidak membela ulama apalagi untuk pilihan politik dan kekuasaan. Meski ada yang mencoba mengaitkan dengan berbagai interest politik. Sebagian ingin tahu soliditas umat, sebagian untuk kampanye pasangan capres tertentu dan sebagian mengukur loyalitas terhadap Imam besar HRS, atau kepentingan lainnya yang entah apa. Kami datang bukan untuk itu semua, tapi murni ingin dien- Al- Islam tegak berdiri di atas iman. Wallahu a’lam ..

*Ketua Majelis  Ulama Indonesia  Kota Batu  dan pegiat  Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here