Komunitas Padhang Makhsyar #232: Agungkan Gurumu: Pertengkaran Adab dan Feodalisme

0
98
Foto Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya M iskan diambil dari supdate.blogspot.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kita hidup di jaman di mana HAM menjadi berhala. Egaliter dan demokratisasi di semua lapis kehidupan. Semua manusia dihargai sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Begitu kira-kira yang diajarkan oleh para guru di jaman sekarang. mencium tangan guru adalah feodal. Apalagi membungkuk atau sekedar membawakan tas bawaan. Itu deskriminatif sesuatu yang bertentangan dengan semangat modernitas. Bahkan ada yang bilang membungkuk pada guru sama dengan menyekutukan Tuhan.

Murid boleh bertanya apapun termasuk diskusi dan mendebat sang guru. Pendidikan modern memposisikan guru hanyalah bagian dari patahan-patahan proses pembelajaran atau dari sub-sistem dan keseluruhan sistem dari proses belajar. Jadi guru sama kedudukannya dengan lap top, lcd proyektor, papan tulis atau kapur.

Sampai di sini guru kehilangan fungsi humanitas yang memanusiakan. Terjebak pada transformasi materi bukan nilai. Menjadi semacam tukang pemberi angka-angka pada rapor yang dibagi setiap satu semester sekali. Modernitas mengajarkan kesetaraan, menghapus kelas dan status. Apapun yang berlawanan dianggap feodal. Lantas apa yang guru ajarkan dan yang murid dapatkan dalam model pengajaran seperti itu.

*^^*
‎قُـم لِـلـمُـعَـلِّمِ وَفِّهِ التَبجيلا ‍ * * كـادَ الـمُـعَـلِّمُ أَن يَكونَ رَسولا
‎أَعَـلِـمتَ أَشرَفَ أَو أَجَلَّ مِنَ الَّذي ‍* * يَـبـنـي وَيُـنشِئُ أَنفُساً وَعُقولا

Berdiri dan agungkanlah gurumu karena kedudukan guru hampir seperti seorang utusan. Adakah engkau tahu siapa kira-kira yang lebih mulia dan agung menyamai pendidik yang membangun dan membentuk karakter manusia ?

Ditanyakan kepada Raja Iskandar Dzulqarnain abad ke III sebelum masehi: Mengapa engkau begitu mengangungkan gurumu dibanding ayahmu ? Iskandar Yang Agung menjawab : Ayahku yang mengantarkan aku dari ketiadaan menuju alam fana ini sedangkan guruku yang mengantarkanku dari alam fana ini menuju alam yang tak berkesudahan (baqa’)

*^^*
Imam Syafii bercerita : Aku sangat berhati-hati membuka lembaran kitab di hadapan guruku (Imam Malik pengarang kitab muwattha’) khawatir bunyi kitabku terdengar oleh beliau dan mengganggunya

Imam Rabi’ murid Imam Syafii bercerita juga : Aku tidak punya kekuatan mengangkat wadah air ketika aku haus jika guruku (Imam Syafii) melihatku

Al Atha murid Imam Malik
menunggu sepi hingga semua teman-nya pulang untuk menyampaikan hadits tentang menyelai jari saat berwudhu. Tak satupun para murid berani berkata lebih keras ketimbang suara gurunya atau sekedar tertawa kecil dihadapan para guru.

Ini bukan feodal tapi adab. Ini bukan sikap egaliter tapi kesantunan. Para murid berdiri saat guru datang dan tidak duduk sebelum gurunya duduk ini bukan sikap deskriminatif tapi kerendahan hati dan tawadhu .. lantas apa yang kita ajarkan sekarang ..

*Ketua  Majelis  Ulama  Indonesia  Kota  Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here