Komunitas Padhang Makhsyar #241: Sebutir Kurma Penghalang Doa

0
68
Foto Kurma Jawa diambil dari Arofah Store

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Sepulang dari ziarah haji, Ibrahim bin Adham berkemas hendak mengunjungi masjid Al Aqsha. Tempat Nabi saw menjadi Imam shalat bagi seluruh nabi, sesaat sebelum di-mi’radz-kan ke langit tujuh.

Perjalanan paling bersejarah sepanjang semesta yang tidak mungkin diulang. Masjid Al Aqsha yang dibangun oleh Nabi Israel salah satu dari tiga tempat yang disucikan. Masjid Al Haram di Mekkah, masjid Nabawi di Madinah dan masjid Al Aqsha di Yerusalem.

Sebelum keberangkatannya, Ibrahim bin Adham, ulama tabiin yang dikenal zuhud dan wara pergi ke pasar di pinggir Masjid Al Haram. Dia beli kurma satu kilo untuk bekal perjalanan. Penjual tua dan kusut, menimbang satu kilo kurma yang dibeli Ibrahim bin Adham. Selesai ditimbang dan dibayar, Ibrahim bin Adham mengambil kurma yang tercecer dibawah timbangan, diambil dan dimakan. Dikira bagian dari kurma satu kilo yang dibeli.

Setelah menempuh empat bulan perjalanan Ibrahim bin Adham tiba di masjid Al Aqsha, selesai berwudhu sebagaimana kebiasaanya dia memilih shalat dan berdoa dibawah menara Sakhra

Ia shalat beberapa rakaat kemudian berdzikir dan berdoa sangat lama sebelum ia dikagetkan oleh pembicaraan dua malaikat. Inikah Ibrahim bin Adham yang zuhud dan wara yang doa-doanya selalu di-ijabah .. ? ya .. tapi itu dulu .. .. sebelum dia makan sebutir kurma yang bukan haknya, sekarang tidak lagi .. “, kata malaikat satunya.

Ibrahim kaget, selama empat bulan ini ibadah dan doanya terhalang karena dia makan sebutir kurma yang bukan haknya. Dia bangkit bergegas kembali ke Mekah. Mencari Pak Tua penjual kurma di pasar Mekkah.

Dicarinya di pasar, hanya anak muda yang ia temui sementara Pak Tua entah dimana. ‘Kemana Pak Tua penjual kurma .. ‘ tanya Ibrahim pada anak muda yang ternyata adalah salah satu dari sembilan putra penjual kurma yang meninggal tiga bulan yang lalu.

Ada apa mencari bapakku, kata anak muda itu. ‘Aku telah mengammbil dan memakan sebutir kurma dari bapakmu, aku ingin penghalalan .. ‘, Anak muda itu menjawab, aku halalkan, tapi entah kedelapan saudaraku yang lain. Kata pemuda itu seraya menunjukkan nama dan alamat saudaranya yang tersebar di kota Mekkah. Ibrahim bin Adham bergegas menemui saudara-saudara pemuda itu, tiga bulan berselang kelar sudah, kini Ibrahim bin Adham lega.

Sebutir kurma, saya tak bisa bayangkan berapa ratus ribu butir kurma yang sudah aku pungut dan makan tanpa penghalalan. Lalu siapa aku …. ? .. Masihkah sombongkan diri … “.

*Ketua Majelis  Ulama Indonesia  Kota  Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here