Komunitas Padhang Makhsyar #242: Santri NU Benteng Terakhir NKRI

0
773
Foto bendera Merah Putih dan peta Indonesia diambil dari Okezone.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

‘Usir puiang dubes Saudi .. ” katanya pendek, khas gaya NU. Bukan pengusiran secara fisik sebagaimana dipahami leterljik. Semata agar para dubes tak sembarang berkata dan membuat nya sedikit keder. Itu targetnya. Teringat saat NU berteriak takbir untuk usir jendral AWCS Mallaby ketika mengusik daulat negara.

*^^*
Inilah NU yang sebenarnya. Berani lugas, dan terukur. Resolusi jihad pun pernah di cemas kan para petinggi negara karena kalut tak punya pasukan. Tapi para santri bergeming. Tekad bulat usir penjajah dari bumi pertiwi meski hanya bersenjata laras butut dan selembar doa yang didapat dari para kyai nya. Tapi sudah cukup membuat lawan bergetar dan terusir pergi,

Mars NU adalah Mars tentang keberanian, syahid, cinta tanah air dan nasionalisme atas nama iman. Itu yang membuat saya kerap merinding saat beberapa kali hadir dalam harlah yang mereka selenggarakan.

Ghirah santri NU ini sudah terbentuk sejak mereka menjadi santri. Dan tak perlu mendapat pendidikan kewiraan atau lainnya untuk menjadi berani membela negeri : Yalal Wathan punya jawaban nya.

*^^^*
Santri NU telah membuktikan itu. Maka saya sangat paham bila kemudian santri NU begitu sensitif atau reaktif ketika ada yang mencoba mengubah bentuk negara menjadi khilafah atau mengganggu eksistensi negara kesatuan RI. Kita boleh bilang NU sok paling NKRI atau lainnya. Tapi sejarah telah berbicara. NU salah satu dari pendiri NKRI yang masih tersisa ketika yang lain sudah mulai surut langkah dan bersikap abu-abu atau bahkan tiada lagi bersama.

Bergabung dalam poros nasakom
sebagai pilihan strategis, tapi NU juga yang paling berani menumpas PKI. Keberanian NU bukan hanya bilang PKI itu melawan Islam karena tidak mengakui adanya Tuhan tapi juga diwujudkan dalam bentuk perang sipil. Bahkan NU pernah dianggap melanggar HAM karena perlakuan-nya terhadap aktifis PKI. Saya setuju bahkan sangat, ketika NU berusaha menabalkan dirinya sebagai benteng NKRI. Mereka punya keberanian dan punya nyali meski dianggap melawan logika sebagian umat Islam lainnya.

NU tegas bersikap. NKRI harga mati. Ini jelas pernyataan sikap yang sangat dibutuhkan ketika negara dalam keadaan tertekan. Negara butuh sokongan, dan sikap tegas NU menjadi modal signifikan untuk melawan setiap yang mengancam eksistensi negara. Dan NU telah berkali-kali membuktikan itu tanpa syarat, siapapun Presiden dan penguasanya, bagi NU tak penting. Tapi keberadaan NKRI sebagai perjanjian luhur dijaga sepenuh jiwa. Saya pikir siapapun Presiden bakal butuh sikap loyal dan setia. Dan NU punya semua yang dibutuhkan oleh negara.

*^^*
KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengumandangkan fatwa yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945. Beliau berfatwa bahwa wajib hukumnya mempertahankan tanah air dari penjajah dan syahid bagi dia yang meninggal melawan tentara Sekutu. Ini adalah salah satu bukti otentik. Bahwa NU memang menjadi bagian dari setiap tarikan napas NKRI itu sendiri.

*Penggiat Muhammadiyah dan Pendiri Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here