Komunitas Padhang Makhsyar #244: Capres Bathil Pasti Kalah

0
568
Foto Thanos diambil Vulture

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Mari bersepakat:

Pertama, pemenang Pilpres tahun 2019 adalah Pandhawa. Kurawa pasti kalah. Karena culas. Tak kuasa menahan ambisi. Suka mencari ribut dan senang sebar kabar dusta. Sengkuni adalah pabrik dusta. Perang Bharatayudha juga karena ulah Sengkuni yang banyak menghasut.

Kedua, pemenang Pilpres adalah kebenaran yang mengalahkan kebatilan. Calon Presiden Yang bathil pasti hancur dan kalah. Allah berfirman: Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS.al-Isra’:81). Capres yang bathil pasti lenyap dan kalah. Siapa capres bathil itu ? Capres yang kalah itu jawabnya.

Ketiga, capres pemenang adalah Hizbullah. Capres yang kalah adalah hizbus syaithan. Hizbullah tak pernah kalah tapi selalu menang. Hizbus syaithan membuat berbagai tipu daya untuk mengalah kan Hizbullah. Tapi semua tipu daya hizbus syaithan bisa dikalahkan. Allah berfirman: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”

*^^*
Kesaksian Prof Amien bahwa Pilpres 2019 ibarat nya seperti perang Bharatayudha atau ARMAGEDHEON menarik di simak setidaknya sebagai bahan bincang agar Pilpres kian renyah karena banyak cerita dan kisah.

Masing-masing merasa membawa dan membela panji kebenaran dan lawan politiknya adalah gerombolan ke-bathilan yang harus enyah. Siapa Hizbullah siapa hizbus syaithan. Siapa Pandhawa dan siapa Kurawa. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Pertengkaran internal umat Islam memang tak bisa dilihat secara hitam putih. Benar salah atau kalah dan menang. Bahkan para khalifah dan salafus salih juga tak bisa menghindar dari pilihan dielematis. Sebagian mendukung Abu Bakar ra dan berbaiat sebagian mendukung Ali ra dan sebagian lagi diam. Ketiganya membawa pengikut dan kebenaran untuk dibela hingga mati. Jaman khalifah memang belum ada demokrasi sehingga tak ada pungut suara untuk menentukan siapa yang paling banyak dikehendaki apakah Abu Bakar ra atau Ali ra yang dikehendaki umat.

*^^*
Lantas siapa pembela dan pembawa panji kebenaran itu ? Pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo. Itulah rumitnya kalau politik dibawa ke ranah theologis. Kita bertengkar dengan menggunakan ayat dan dalil yang sama.

Demikianlah Allah Membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi.” (QS.ar-Ra’d:17).

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26].

*^^*
Legawa kata kuncinya, menerima apapun hasil pilihan rakyat. Tidak boleh ada pertengkaran lanjutan setelah tanggal 17 April 2019 kecuali yang memang sejak awal menyukai pertengkaran itu sendiri. Kebenaran milik Allah bukan milik segolongan pendukung yang mengaku benar atau sebaliknya. Jadi siapapun ada yang bakal dikehendaki Allah berkuasa atau sebaliknya atau siapapun yang dimuliakan Allah atau sebaliknya … maka terimalah sebagai penghakiman dan tak perlu beralibi bahawa sebab kekalahan karena hizbus syaithan melakukan kecurangan .. .. padahal karena hizbus syaithan itulah maka dikalahkan … terima saja tanpa kata tapi, yang kalah pasti bathil .. ..

Itulah rumitnya jika agama masuk di ranah politik .. agama menjadi tercemari kepentingan dan politik tak jadi bersih karena agama.

*Ketua  Majelis  Ulama Indonesia Kota batu  dan pegiat  Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here