Komunitas Padhang Makhsyar #247: Pernikahan Separoh Agama

0
395
Foto nikah muda diambil dari blog.elbaba.co.id

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Apakah tidak menjadikan persyaratan bahwa seorang pemimpin apakah itu raja, khalifah, presiden atau gubernur dan walikota berstatus menikah dan punya keluarga. Sebagai satu syarat kesempurnaan jasmani dan spiritualitasnya.

*^^*
Konon Raja Dawud as beristri 100. Raja Sulaiman as putranya lebih spektakuler lagi, 1000 orang. Ratu Balqis salah satunya. Para isteri itu adalah simbol kebanggaan bukan banyak sekedar pemuas berahi. Raja Sulaiman as pernah akan bercampur dengan 70 atau 100 orang isteri-nya dalam semalam. Nabi saw juga bercampur dengan semua istrinya pada malam haji wada’,

Para khalifah dan pemimpin lainnya tidak saja memiliki kesempurnaan fisik tapi juga psikis. Raja Jawa punya permaisuri yang melahirkan putra mahkota, disamping punya puluhan bahkan ratusan selir. Para khalifah juga sama, punya permaisuri dan harem yang jumlahnya bisa ratusan. Perempuan-perempuan di sekitar raja atau khalifah memang menarik, meski penuh misteri. Persaingan juga konflik tingkat dewa.

Harem atau selir ini punya komunitas sendiri. Sebab raja atau khalifah memang istimewa, bahkan sangat. Tidak sama dengan manusia biasa atau rakyat jelata. Semua harus serba istimewa, termasuk kehidupan privasinya. Dan Soekarno punya itu semua. Sebab raja-raja dan para khalifah sebelumnya justru berbalik. Sebut saja Soekarno orang Jawa bilang “lelananging jagat”. Dikenal tampan, romantis dan cassanova kelas wahid.

*^^*
Perempuan adalah tiang negara. Jika baik perempuan-nya maka baik negaranya jika buruk perempuan-nya akan buruk pula negaranya. Demikian Nabi saw bertutur terhadap betapa pentingnya peran perempuan.

Lantas bagaimana jika seorang tanpa didampingi seorang perempuan atau isteri. Maka separo agamanya hilang. Dia akan pincang dan mudah tumbang. Emosional bahkan kerap irasional. Adam saja gelisah di surga sebelum Hawa diciptakan sebagai pendamping.

Negara bakal punah tanpa perempuan yang berfungsi sebagai penerus keturunan. Bahkan Nabi saw memerintahkan kita untuk menikahi wanita-wanita yang punya keturunan baik lagi banyak. Alias tidak mandul. Betapa pentingnya peran isteri. Ibunda Khadijah ra adalah wanita agung yang terus mendampingi dan menguatkan nabi di saat ujian menimpa. Di awal kenabian yang penuh uji itu, Khadijah binty Khuwalid ra tampil begitu dominan.

*^^*
Tapi apakah penting seorang pemimpin harus menikah apalagi beristeri banyak. Tidak menjadi syarat memang, tapi apa salahnya sebagai sebuah kesempurnaan. Pemimpin harus yang terbaik diantara kaumnya. Baik agamanya, baik kelakuannya, baik tutur katanya dan baik pula keluarganya. Ini hanya soal insidental memang. Tapi yang tidak punya pernikahan telah hilang separo agamanya.

Imam Bayhaqi dan Imam Hakim meriwayatkan: ‘Barang siapa yang Allah berikan rezeki berupa istri yang salihah, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah membantunya atas setengah agamanya. Selanjutnya, hendaknya dia bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala pada setengah yang tersisa.”
Wallah taala a’lam

*Ketua Majelis  Ulama Indonesia Kota Batu  dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here