Komunitas Padhang Makhsyar 249: Selamat Natal Vs Selamat Maulid

0
342
Foto Superman diambil dari mobilitas.blog.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Berbeda dengan umat Islam yang lebih terbuka dan kooperatif dalam pengucapan selamat Natal. Orang-orang Nasrani justru lebih tertutup. Saya pikir itu logis dari pertimbangan teologis dan iman yang mereka yakini. Tak satupun orang Nasrani berani mengucapkan selamat Maulid Nabi. Sebagai pertanda pengakuan terhadap kelahiran Nabi akhir jaman sebagaimana tertulis dalam kitab mereka..

Dari sisi teologis orang Nasrani jauh lebih kokoh dan eksklusif dibanding umat Islam yang lebih longgar dan kooperatif. Sebut saja dalam pengucapan Natal. Meski beberapa masih dalam wilayah debatable (ilkhtilafiyah), namun tak sedikit umat Islam baik secara personal atau kelektif mengucapkan selamat Natal dan beberapa malah menghadiri ibadah Natal baik di gereja, aula, mall atau tempat-tempat lain atas nama toleransi atau perkawanan.

Sangat logis jika orang Nasrani tidak mengucapkan selamat Maulid. Bukankah mereka tidak mengakui Muhammad sebagai nabi. Akan menjadi batal iman mereka jika mengakui Muhammad sebagai nabi. Dan iman Kresten pasti melarang.

*^*
Perayaan Natal tidak sepadan dengan Hari Raya Iedul Fitri atau Idul Adha. Dua hari raya terakhir ini berbeda substansi dibanding dengan perayaan Natal. Natal adalah pengakuan atau syahadah pada Isa al Masih sebagai Kristus, juru selamat atau messiah yang lahir, kemudian mati disalib dan bangkit di hari Paskah. Bahkan lebih jelas Jesus sebagai anak Allah. Bagian penting dari Trinitas. Itulah iman Kresten tentang Natal yang mereka rayakan. Sedangkan Iedul Fitri dan Iedul Adha tak lebih hanya hari raya makan dan minum. Tak berhubungan dengan teologis meski sarat dengan hukum syar’i.

Jadi ketika orang Nasrani mengucapkan selamat hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha tak akan membatalkan iman. Tapi berbeda jika mereka mengucapkan selamat Maulid Nabi. Pengakuan bahwa telah lahir nabi Muhammad sebagai nabi terakhir setelah Isa, akan lain masalahnya. Sebab ini berhubungan langsung dengan iman Kresten yang tidak mengakui Muhammad sebagai nabi.

Kristus adalah anak Allah yang diurapi. Ini harga mati bagian iman paling prinsip. Tak boleh di tawar. Selamat Maulid yang diucapkan sebagai bentuk pengakuan bahwa Muhammad adalah nabi itu imposible bagi iman Kresten. Pun dengan umat Islam yang mengucapkan selamat Natal sebagai bentuk pengakuan bahwa jesus adalah anak Allah sebagai juru selamat itu juga imposible.

*^*
Ini yang saya sebut sebagai garis batas atau demarkasi iman. Ucapan selamat Natal dan selamat Maulid akan berakibat sama: membatalkan iman bagi kedua agama. Maka siapapun yang memasuki garis demarkasi itu ia telah membatalkan imannya. Jadi tak perlu mengajak orang diluar iman masuk atau malah menantang pada wilayah terlarang itu.

Iman Kresten mengajarkan tak ada lagi nabi setelah kelahiran sang juru selamat. Dan itu kami hargai.
Iman Islam juga tegas menyatakan bahwa Isa adalah ruh Allah, kalimat Allah dan nabi utusan yang membawa risalah tauhid seperti nabi-nabi yang lainnya. Jadi tak penting membahas yang beginian setiap tahun sebab keduanya sudah jelas.

Toleransi itu bukan saling menghadiri. Toleransi itu tidak saling mengusik. Toleransi itu memberi rasa aman dan tidak saling mengganggu🌹 … itu sudah cukup … semoga damai menyertai .. bagi yang merayakan.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here