Komunitas Padhang Makhsyar #250: Saat Bencana Hanya Jadi Event

0
219
Foto Dahsyat nya ombak di inggris diambil oleh merdeka.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Menonton bencana layaknya sebuah Event. Sambil nyambi makan kacang goreng melihat tubuh bergelimpangan tak bernyawa. Bangunan luluh lantak. Pohon tumbang berjatuhan. Hati tak juga takut. Iman tak juga bertambah. Masjid juga tetap sepi pengunjung, kalah ramai dengan tempat hiburan dan rekreasi yang riuh. Sujud tidak lebih lama. Istighfar juga tak cukup mampu menggetarkan. Kita terus mencari salah. Dan sibuk cari kambing hitam.

Saat gempa dan tsunami pun kita juga kerap lupa sebut nama Tuhan. Kita lebih percaya pada para pakar BKG dan BNPB ketimbang sebut nama Allah. Hasil riset dan olahan para pakar, mestinya menjadi alat atau washilah untuk mendekat dan ber-tawadhu kepada Allah bukan malah berbalik menjadi hijab dan berhala yang menjauhkan iman.

*^^*
Kehebohan sempat muncul saat keluar berita hasil penelitian yang menyebut bahwa ada potensi tsunami di Pandeglang Jawa Barat setinggi 57 meter akibat gempa bumi ‘megathrust.’

Bumi pernah tenggelam selama 40 hari saat Nuh as mulai hilang sabar. Umatnya tak kunjung patuh dan tak mau beriman. Azab datang berupa banjir. Allah hendak memberi ingat agar kita kembali taubat. Tapi boro-boro bertaubat. Sesal pun tak kunjung datang bahkan kemungkaran kian menjadi.

Bencana apapun bentuknya adalah bagian dari sedikit kekuasaan Tuhan. Tak satupun bisa melawan. Air terpancar deras dari berbagai arah. Saat banjir bandang itu segala yang ada di bumi memancarkan air. Langit, gunung, pasir, bebatuan juga mengeluarkan air. Tapi mereka yang ingkar tak juga takut bahkan terus melakukan perlawanan dengan berbagai macam cara. Hanya sedikit yang beriman bersama Nuh as naik kapal sesuai perintah Allah taala.

*^^*
Nabi saw bertutur:”Tahukah kamu, apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Dia berfirman, ‘Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang, sedangkan orang-orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kita karena bintang ini atau bintang itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang’” (HR. Bukhari, no. 1038).

Islam itu pasrah. Menghamba. Orang Jawa bilang sumeleh. Bukan putus asa tapi menerima segala ketetapan. Bukan melawan ketetapan. Menerima apapun bentuk penciptaan dan ketetapan. Tidak mengubah hidung pesek menjadi mancung atau payudara susut diganjal plastik agar terlihat padat, ini bukan ikhtiar tapi melawan ketetapan. Ini bukan sumeleh tapi perlawanan atau pengingkaran yang kemudian lazim disebut kufur terhadap nikmat.

*^^*
Pada akhirnya bencana hanyalah sebuah ujian. Apakah kita termasuk hamba yang patuh atau hamba yang ingkar. Bahkan saya juga tak tahu termasuk hamba yang mana. Apakah menjerit histeris memanggil minta pertolongan para relawan. Berlari meninggalkan lokasi mencari tempat aman sambil menginjak kepala dan kaki teman. Atau sibuk mencari sanak famili yang lepas dari pelukan. Atau bertawakal dan pasrah menghamba pada kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa.

Kita lupa ada Tuhan saat kita diuji. Berharap mendapat penjagaan dari segala petaka. Semoga masih bisa sebut nama Tuhan saat ujian datang meminta bukti. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here