Komunitas Padhang Makhsyar #257: Era Baru: Selamat Tinggal Jokowi

0
272

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jokowi adalah ‘perubahan’. di saat kepemimpinan nasional sangat elitis. Berjarak dan tidak bisa disentuh. Gaya ningrat dan militeristik Soeharto pada masa orde baru dan SBY yang elitis dan bangsawan pasca reformasi membuat rakyat tak bisa dekat dengan pemimpinnya. Dan Jokowi datang menawar perubahan. Gaya populis, merakyat, mudah di ajak bicara membuat istana tak lagi angker seperti sebelumnya.

Jokowi adalah tipologi pemimpin yang lahir dari rakyat jelata atau kalangan bawah. Tidak punya trah bangsawan atau negarawan kecuali kakeknya yang pernah menjabat sebagai lurah. Sederhana dan dekat dengan rakyat. Gaya blusukan saat menjadi walikota Solo menjadi daya pikat luar biasa. Ia berhasil memenangi pilgub DKI dan Pilpres. Capaian yang sangat fantastis untuk ukuran orang biasa.

*^^*
Ditengah arus globalisasi dan keterbukaan. Pun dengan arus demokrasi transaksional Jokowi seperti dikunyah mentah. Ia dikritik habis, dibuly dan ditelanjangi tanpa filter apalagi berita hoax. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Dan Jokowi pun juga harus patuh pada hukum alam: perubahan. Gaya populis nya tak selamanya menguntungkan sebab banyak faktor negatif yang tak mampu dikendalikan.

Pada situasi politik macam begini, model kepemimpin Jokowi sudah tak relevan. Rakyat butuh perubahan karena gaya populis yang kelewat hanya merepotkan dan dianggap tidak kredibel. Jokowi kalah. Sebab tak lagi nampu meng-ugpgrade gaya kepemimpinan nya yang dinilai banyak orang lamban, tidak efektif dan tidak berwibawa. Inilah soal besarnya.

Ibarat pendulum, bandul nya mulai bergerak ke arah sebaliknya. Rakyat butuh perubahan. Butuh pemimpin yang tangkas, cekatan dan tegas. Rakyat butuh mimpi dan idealisme bukan hanya kerja-kerja-kerja dan yang praktis. Hal mana menjadi sisi yang sama sekali tiada dalam diri Jokowi.

*^^*
Ada beberapa faktor dan isu nasional yang tak cukup bisa dijawab sederhana yang berpotensi menggerus elaktabilitas Jokowi:

Berbagai isu itu antara lain:

isu tentang kesejahteraan, pengangguran, kesenjangan sosial. Isu deskriminasi agama tentang kriminalisasi ulama, penghapusan pelajaran agama, legalisasi LGBT dan permusuhannya terhadap umat Islam. Isu hutang luar negeri yang terus menumpuk menciptakan ketakutan publik bahwa negara bakal bangkrut. Isu tentang kebangkitan PKI yang dalam beberapa hal diperlihatkan oleh kader-kader PDIP dengan berbagai bentuk.

Isu korupsi yang terus meningkat dari berbagai lapis pemerintahan yang tidak kunjung berkurang. Isu tentang ancaman kedaulatan negara dan kooptasi asing atas kekayaan alam dan sumber-sumber produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Isu tentang naiknya harga pupuk dan obat obat pertanian, dan isu tentang pembangunan infrastruktur jalan tol yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kehidupan para petani pekebun dan rakyat jelata lainnya. Dan terakhir isu hoax.

Sementara Kyai Ma’ruf Amin yang Digadang-gadang dapat menaikkan elaktabilitas justru berbalik menjadi beban. Sebab dikalangan umat Islam sendiri Kyai Ma’ruf malah kerap membuat blunder dan kontroversi. Disamping faktor usia juga soal elaktabilitas, Kyai Ma’ruf dikawatirkan juga tidak mampu mendongkrak perolehan suara.

*^^*
Dan lebih dari itu semua adalah isu tentang perubahan. Ada semangat yang terus dirawat dan tidak bisa dicegah: perubahan atau ganti Presiden. Dan rakyat akan menentukan pilihanya pada April mendatang. Sunatullah yang terus .. maka apapun yang terjadi saya tetap berharap Indonesia mendapat pemimpin yang baik, yang amanah, yang komit dan berdedikasi untuk agama bangsa dan negara … aamiin insya Allah.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here