Komunitas Padhang Makhsyar #259: Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu: Beragama yang Mencerahkan

0
270
Foto salah satu logo muhammadiyah yang sudah dimodifikasi diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Sejak mula aku jatuh cinta dengan Persarikatan ini. Se-dahsyat apapun perbedaan tetap di selesaikan dengan bijak. Sekuat apapun energi merubah haluan, Muhammadiyah tetap Istiqomah di tengah, di jalan Khittah.

*^^*
Pemilihan tema “Beragama yang Mencerahkan” berangkat dari adanya gejala, bahkan realitas, di mana agama seringkali dijadikan instrumen kekuasaan, alat memecah belah, dan komodifikasi politik. Demikian beberapa pemerhati menyebut tentang tema Tanwir yang diangkat.

Di pilihnya Kota Bengkulu juga sangat menarik. Mengingatkan perjalanan Bung Karno sebagai presiden juga sebagai Konsul Pendidikan Muhammadiyah. Kemudian, di Bengkulu juga terdapat amal usaha yang berkembang pesat dan kepemimpinan Muhammadiyah yang solid, khususnya di tingkat wilayah. Di kota ini pula Soekarno menemukan buah hatinya seorang aktifis Nasyiah ibu Fatmawati putri Kyai Hasan Din konsul MUHAMMADIYAH Bengkulu saat itu.

*^^*
Perjalanan MUHAMMADIYAH memang sangat menarik penuh dinamika dan kisah-kisah teladan yang indah. Tidak cukup hanya dikenang tapi layak diulang kembali. Kisah tentang Kyai Dahlan yang lantang bicara twntang pembaharuan pemikiran Islam, usaha melepas dari lilitan jumud, meletakkan fundamen kemodernan dan ke-Indonesia-an. Membuka kembali marwah dan cahaya Islam yang tertutup rapat. Kyai Dahlan bukan saja seorang pembaharu tapi seorang pragmatikus agama. Bukan hanya kaya gagasan tapi juga seorang yang piawai beramal saleh.

Atau Kyai Mas Mansoer yang heroik. Tegakkan Islam puritan dengan jargon kembali kepada Quran dan sunah. Beliau perangi takhayul, bid’ah dan khurafat yang saat itu dominan di tubuh umat Islam. MUHAMMADIYAH tampil trengginas, pada masanya pula lahir majleis tarjih yang kemudian hari menjadi ruh pergerakan.

Atau Pak AR Fakhrudin yang jenaka tapi cerdas luar biasa. Pada eranya MUHAMMADIYAH tampil teduh, bersahabat dan memukau banyak lawan. Gus Dur pernah bilang hanya Pak AR yang bisa mwmbuat orang NU jadi Muhammadiyah dalam sekejap.

*^^*
Lama sejak berdirinya MUHAMMADIYAH telah kenyang makan garam dinamika sosial politik dan ke agamaan. Dari masa kompeni, masa kemerdekan rezim orde lama, orde baru dan masa reformasi MUHAMMADIYAH selalu tampil elegan. Menjaga nilai dan moral etik keberagamaan. Mengedepankan karakter dakwah ketimbang wajah politik meski tidak dipungkiri ada beberapa aktifis pegerakan yang lebih kental aroma politis nya. Semata karena ada beberapa yang kurang bersabar.

Tanwir di Bengkulu setidaknya bakal memperkuat karakter dakwah yang mulai disoal. Sebab ada yang mencoba menarik-narik ke wilayah politik praktis. Tapi saya yakin bakal tidak lama. Tahapan Pilpres memang menguras banyak pikiran dan energi, meski berulang kali di ingatkan bahwa Pilpres adalah rituanjtas politik lima tahunan yang tidak selayaknya mendapatkan seluruh perhatian. Sementara yang substansi justru kerap ditinggalkan.

Dakwah politik tidak harus berburu kursi atau jabatan politik. MUHAMMADIYAH tampil elegan dengan tetap memegang teguh nilai nilai humanitas, keadaban dan moralitas dalam berpolitik yang santun bukan politik ananiyah menghalalkan segala macam cara untuk mendapat kekuasaan. Kembali menghidupkan musyawarah, dan kepentingan negara jauh ke depan ketimbang kepentingan politik dan golongan. Maka MUHAMMADIYAH tak harus menjadi partisan salah satu capres yang sedang bertarung. Watak inilah yang harus tetap dijaga. Revitalisasi manhaj MUHAMADIYAH menjadi urgent di tengah tarung terbuka beragam ideologi.
*^^*
Kebaharuan MUHAMMADIYAH sudahlah lazim sebagai sebuah gerakan pemikiran yang dinamis dan terus mengabdi. Salah satu bentuk cinta MUHAMMADIYAH terhadap tanah air adalah dengan membanyak kan kebajikan dan amal saleh. Dan itu sudah terbukti. Carl Whyterington menyebut MUHAMMADIYAH sebagai organisasi yang diberkati .. .. aamiin.
Selamat Tanwir semoga keberkahan dan kemudahan .. 🌹🌹🌹🌹🌹

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here