Komunitas Padhang Makhsyar #260: Cleopatra: Ambisi Politik, Wanita dan Uang

0
152
Foto model hijaber diambil dari pinterest

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Demokrasi adalah kecelakaan. Musyawarah hanyalah mimpi. Sebab politik tak butuh itu. Cleopatra buktinya. Ia tak begitu cantik. Tapi berani dan cerdas. Para akademikus menyebutnya sebagai perempuan penggoda. Manipulatif dan nakal. Cleopatra menjadi ratu penguasa paling berpengaruh di Eropa. Dan paling eksotik di Mesir.

Jangan bermain politik kalau tak
punya ambisi. Demikian kira-kira pesan yang hendak disampaikan Cleopatra ketika hendak menyatukan kekaisaran Mesir dan imperium Eropa. Ia racun mati adik lelaki sekaligus suaminya Ptolemmy berikut adik perempuan nya. Tanpa belas kasih sebab kesatuan dan wibawa imperium suci jauh lebih berharga ketimbang persaudaraan dan hubungan sedarah.

Banyak orang bilang Cleopatra bukan perempuan dengan paras cantik. Yang jelas dia adalah perempuan penggoda untuk memenuhi ambisi politiknya. Tak segan ia serahkan tubuhnya untuk para ningrat dan bangsawan Mesir bahkan ia harus merayu Mark Anthony demi kesatuan Mesir dan Romawi. Keberanian butuh nyali besar. Cleopatra orangnya.

*^^*
Jagat politik sesak dengan perempuan, uang dan ambisi. Tanpa itu tak ada gairah. Politik jadi pucat karena tak ada asupan gizi. Situasi menjadi tak jujur ada politik panggung depan dan politik panggung belakang. Bahkan politisi yang mengaku paling religius sekalipun juga tak ada beda, sekali tiga uang. Tidak ada politisi yang selamat kecuali politisi idealis yang hanya pandai berteriak di pinggir etalase demokrasi.

Kita berada pada sistem politik yang salah. Jokowi dan Prabowo hanya kurban dari sistem politik ananiyah. Yaaa .. kita memang telah membuat demokrasi sangat riuh tapi jauh dari etika dan adab. Bahkan penjaga moral pun kehilangan adab.

Ambisi politik digerakkan oleh wanita dan uang. Sinergitas yang bukan saja lazim tapi juga mendapat kan pengakuan secara politis meski berupaya dibantah tapi salah satu dari keduanya pasti mendominasi. Inilah politik yang banyak dibanggakan itu.

*^^*
Lalu di mana moral dan etik ? Ini pertanyaan klise saya menyebutnya. Apa masih diperlukan moral dan etika ditengah demokrasi liberal. Ketika kekuasaan menjadi berhala meraihnya semua cara menjadi halal. Jika agama bertaut dengan politik. Politik tak jadi bersih karena agama. Tapi agama akan jelas tercemari oleh politik. Selamat menikmati …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here