Komunitas Padhang Makhsyar #261: Keagungan Kyai Ahmad Dahlan Selamatkan Muhammadiyah dari Euforia Politik

0
156
Foto Tokoh Muhammadiyah Jawa Timur H.Malik Fajar (peci hitam) bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Dr.Sukadiono (batik kuning) diambil dari dokumen pribadi denpeyi

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Abu Nuwas mencari barang hilang di luar, dengan alasan karena di dalam gelap. Dari kisah itu, kita belajar: Kalau Anda hilang sesuatu barang di dalam, jangan mencari barang hilang itu di luar, hanya karena di dalam gelap.

*^^*
Tetirah di Tosari Pasuruan agar jauh dari aktifitas. Dokter pun sudah memutus agar beliau istirahat total karena sakitnya. Namun, Kyai Dahlan tidak mau istirahat. Kata beliau, “Jika saya hentikan pekerjaan ini atau istirahat sekarang, maka beratlah tanggung jawab para penerus saya.”

Padahal sudah cukup banyak hal yang telah beliau lakukan. Namun, Kyai Dahlan merasa perlu untuk terus berjuang bagi Muhammadiyah. “Ini menjadi value atau nilai-nilai dasar dari Muhammadiyah,” tutur Haedar Nashir.

Berhenti berarti mati. Pergerakan ini bukan sekedar kumpulan arisan Ibu-ibu yang buyar setelah semua anggota mendapat undian. Terus ada, dan bergerak membuat banyak kebajikan bagi maslahat banyak. Di manapun kita, tiada boleh berhenti atau sekedar jeda.

*^^*
Nilai lain yang tak kalah penting adalah menjaga Muhammadiyah supaya tidak terkontaminasi politik praktis. Gegap gempita dinamika politik di luar tak dipungkiri membuat sebagian pengurus Muhammadiyah ‘kemrungsung’ dan larut dengan berbagai alasan dan dalih.

Tahun 1918, sempat ada perdebatan antara Kiai Dahlan dan Haji Agus Salim yang sudah aktif di Sarekat Islam (SI). Agus Salim yang pernah menjadi anggota Muhammadiyah mengajak Muhammadiyah untuk mengubah bentuk orientasi gerakan menjadi partai politik seperti SI. Ada sebagian pengurus menganggap Muhammadiyah kurang taji menghadapi kompeni. Dan tidak sedikit yang masuk dunia politik praksis dengan berbagai alasan.

Dengan retorikanya yang bagus, Agus Salim hampir bisa mempengaruhi para peserta sidang. Wajah Kiai Dahlan tampak menunjukkan ketidaksetujuannya. Sampai-sampai beliau menggebrak meja. Kiai Dahlan lantas menjawab seluruh argumen Agus Salim dengan jawaban retoris, “Apakah Muhammadiyah itu? Apakah gerakan Islam itu? Apakah yang kita lakukan ini, untuk apa dan mengapa?”

Kiai Dahlan menolak untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan politik. Padahal ketika itu, SI sedang berjaya dan menjadi model bagi gerakan modern. Kiai Dahlan kukuh supaya Muhammadiyah tetap pada jalurnya sebagai gerakan kultural, yang tidak memainkan peran politik praktis. Namun, bisa memainkan peran yang jauh lebih besar dari partai politik.

*^^*
Tidak gampang kemrungsung atau gumunan lantas bertindak tergesa-gesa tanpa itungan. Muhammadiyah bisa melampaui ormas apalagi hanya sekedar partai politik yang bergantung pada kursi dan biting suara. Gerakan yang sudah dibangun Muhammadiyah punya pengaruh sangat besar jauh melampaui dari yang dilakukan oleh partai politik apalagi LSM atau lembaga-lembaga semisal.

Muhammadiyah seperti negara dalam negara demikian banyak pengamat menyebut. Lantas kenapa masih ragu … jika ragu tanda tak ngurus dengan serius. Sebab tak paham dengan kekayaan yang ada di dalam, lantas terasa gelap dan mencari yang di luar-an yang dikira terang … “.
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here