Komunitas Padhang Makhsyar 263: Etika Muhammadiyah dan Protestant Ethic

0
148
Foto pendirian Bendara Muhammadiyah diambil dari suara muhammadiyah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ethos Muhammadiyah yang digagas Kyai Dahlan mungkin bisa disamakan dengan The Protestan Ethics yang pernah ditulis Max Webber dalam bukunya yang sangat terkenal: Die Protestantiesche Ethik Under Geits Des Kapitalismus.

*^^*
Etika Protestan adalah sebuah konsep dan teori dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang menyoal masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai agama. Dalam agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya sebelum masuk ke surga atau ke neraka. Hal tersebut ditentukan melalui apakah manusia tersebut berhasil atau tidak dalam pekerjaannya di dunia. Adanya kepercayaan ini membuat penganut agama Protestan (Calvinis) bekerja keras untuk meraih sukses.

Inilah yang disebut sebagai Etika Protestan oleh Max Weber dalam bukunya Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yakni cara bekerja yang keras dan bersungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya. Teori ini merupakan faktor utama munculnya kapitalisme di Eropa. Untuk selanjutnya Etika Protestan menjadi konsep umum yang bisa berkembang di luar agama Protestan itu sendiri. Etika protestan menjadi sebuah nilai tentang kerja keras tanpa pamrih untuk mencapai sukses.

*^^*
Kyai Dahlan mengajarkan Surat al-Ashr selama 7 bulan. Sementara surat al-Ma’un selama 3 bulan berturut-turut. Kedua surat itu kemudian menjadi etos Muhammadiyah yang mengental sebagai Islam berkemajuan.

Al-Maun mendestruksi dan mengkritik kemapanan serta sistem peradaban sosial-ekonomi juga kehidupan personal. Melawan kapitalisme dan sistem sosial yang tidak adil. Sementara al-Ashr, menjadi inspirasi membangun dengan landasan amal saleh dan kedisiplinan.

Al-Ashr mengisi apa yang diruntuhkan dengan kritik sebelumnya. Inilah etos yang menggerakkan Muhammadiyah untuk mandiri, berdaya, sekaligus tanpa menghilangkan elan vitalnya untuk melakukan keberpihakan dan pemberdayaan terhadap kaum marjinal.

*^^*
Prof Amin Abdullah menyatakan bahwa gerakan keagamaan sosial Muhammadiyah tidak lagi dalam tataran konsep dan gagasan belaka, tetapi menjadi praksis sosial. Pilihan etos Muhammadiyah yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan ini berbeda dengan pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani yang menyebarluaskan ide Pan-Islamisme; dengan Muhammad Abduh yang mengetengahkan pembaharuan pendidikan;  dengan Muhammad bin Abdul Wahab yang melakukan pembaharuan akidah; dengan Kemal Ataturk yang menitikberatkan pada pembaharuan politik.

Zakiyudin Badhawi kemudian menjelaskan bahwa keseluruhan gerak Muhammadiyah yang paling menonjol ini dikenal dengan istilah trisula lama dan baru. Trisula lama mengedepankan dalam aktivitas pendidikan (schooling), pelayanan sosial (feeding), dan kesehatan (healing) yang merupakan jawaban terhadap kondisi umat Islam Nusantara di awal berdirinya Muhammadiyah.

Sementara trisula baru merupakan majelis atau lembaga Muhammadiyah yang menjadi jangkar pemihakan Muhammadiyah terhadap mustadl’afin dan new mustadl’afin yang melampaui segala sekat SARA dan batas negara. Terdiri dari Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu), dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM).

*^^*
Keduanya menawarkan model kerja dan gagasan yang kemudian menjadi bukan saja gerakan amal tapi juga state of mind yang sangat berpengaruh di penghujung abad 19.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here