Komunitas Padhang Makhsyar #266: Para Penjilat: Penguasa Tidak Boleh Salah

0
172
Foto lezatnya aneka toping es krim diambil dari pergikuliner.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Sejatinya inilah kenyataan yang terjadi di alam pikiran para cheerleader, fans boy, timses dan para penjilat kekuasaan. Tiga pasal yang berlaku di kepala mereka adalah pasal 1: penguasa tak pernah salah, pasal 2: penguasa selalu benar, dan pasal 3: Jika penguasa salah, maka lihat kembali pasal pertama.

*^^*
Apa bedanya para penjilat penguasa (rezim) dan penjilat calon penguasa (oposan). Mungkin saya lebih gila lagi: penjilat es krim. Entah berapa puluh kali saya jilat hingga lumat tinggal bungkus. Itulah penjilat sesungguhnya.

Mereka menjilat jagoannya hingga licin. Seburuk apapun program, sejelek apapun berita, se dusta apapun janji, se hoax apapun statement, akan tetap mereka puja dan dukung. Pun sebaliknya sebaik apapun, sehebat apapun, semulia apapun, akan tetap mereka anggap sebagai keburukan atau pencitraan. Memang kebanyakan para penjilat itu sedang tidak sehat karena dikuasai irasionalitas tanpa koma. Para penjilat akan menjunjung tuannya dan menginjak musuh tuannya.

Para penjilat selalu mengirim pesan atau berita baik untuk tuan-nya dan berita buruk tentang musuh tuan nya, yang penting tuan-nya suka. Yang diinginkan adalah kesenangan sesaat. Atau pujian sementara. Para penjilat sebenarnya tidak sedang memperjuangkan tuan-nya, tapi sedang sibuk memperkokoh posisi nya di hadapan tuan junjungan-nya. Banyak penguasa tertipu karena dikelilingi para penjilat termasuk harus sujud syukur mengira menang padahal kalah karena informasi salah para penjilat di sekeliling nya. Kerajaan Prancis, Kaisar Ottoman bahkan Khalifah Ustman harus kalah ditangan para penjilat yang terus sebar hoax. Rasulullah pun pernah suruh lempar pasir ke wajah para tukang puji.

*^^^*
‘Kill the messenger’ telah terjadi sejak abad pertama sebelum masehi. Kisahnya terjadi saat perseteruan antara Romawi dan Kerajaan Armenia. Adalah pembawa pesan dari pemimpin pasukan Romawi, Lucullus, yang mendatangi raja Armenia, Tigranes.

Pihak Romawi mengirim pesan lewat sang messenger yang menyatakan seruan agar Tigranes menyerahkan musuh Romawi yang mengungsi ke tanah Armenia. Karena tak suka dengan pesan itu, pasukan Tigranes lantas memenggal kepala sang messenger Romawi.

Musim pemilu begini, paling pas mengingat pesan Pram (Pramoedya Ananta Toer): ‘Tak perlu merangkak-rangkak, apalagi menjilat-jilat jagoanmu, Kita jilat saja masakan enak yang telah kita masak bersama”. Pram mungkin bukan penjilat tapi juga bukan seorang pengabdi yang baik. Dan pemimpin butuh itu untuk melanggengkan kekuasaan yang sudah di dapat. Para oposan tetap saja berteriak lantang di pinggir, sambil mengais sisa-sisa kekuasaan yang tercecer. Biasanya para penjilat berkerumun seperti lalat pemakan bangkai. Dan terus menyebar berita buruk.

*^^*
Rasullullah saw bersabda : “Menjilat bukanlah termasuk karakteristik moral seorang mukmin.” Budaya menjilat bukan budaya seorang mukmin. Bahkan, sebenarnya budaya ini lebih dekat pada karakter munafik. Tapi mungkin saja saya tak bisa bedakan antara penjilat dan pengabdi. Kekuasaan akan memburuk jika dipenuhi para penjilat. Semacam budak dengan bayaran lepas atau posisi sesuai kesepakatan … lantas apa bedanya .. ?

*Ketua Majelis Ul Indonesia Kota  Batu  dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here