Komunitas Padhang Makhsyar #266: Syi’ah Berbenah: Syi’ah Melawan

0
131
Foto tradisi syiah menyakiti diri dalam perayaan hari asyura diambil dari ahlulbayt news.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Syiah berhasil mengelola
isu menjadi kelompok yang dizalimi, dan di intimidasi. Informasi tentang kesesatan Syiah yang kita sebar justru berbalik menjadi promo gratis. Mahasiswa dengan sikap ingin tahunya malah berebut belajar dan penasaran tentang Syiah . Jadilah Syiah sebagai satu kalompok aliran pemikiran yang paling diminati.

*^^*
Hasil penelitian tim Litbang Depag tentang kehidupan kelompok Syiah di berbagai kota sungguh menggembirakan. Demikian juru bicara Ahlu Bait Indonesia (IJABI) menyatakan: pertama Syiah memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Setia pada NKRI dan Pancasila. Kedua, realitas orang Sunni dan Syiah di kalangan grasrote bekerja sama baik dan saling membantu. Ketiga, hubungan Syiah dengan Pemerintah juga sangat baik.

Hasil penelitian Litbang Depag mementahkan stigma publik yang menyebut bahwa Syiah intoleran. Suka menebar teror. Menyimpang dan entah apalagi.

Selanjutnya dinyatakan dalam penelitian itu: Realitas dan persepsi publik tentang Syiah berbalik 180 derajat. Kelompok Syiah mudah bekerja sama. Toleran. Dalam hal keberagaman kelompok Syiah dinilai partisipatif dan mengambil peran penting. Santun dan akomodatif. Syiah adalah potensi besar yang diperhitungkan dalam membangun. Sebuah keniscayaan yang mungkin. Ditengah kebuntuan ide dan gagasan, Syiah tampil menjadi salah satu alternatif.
terpenting, tidak punya niat untuk merubah bentuk dan fondasi negara. Dan kita (Sunni) dianggap sekumpulan paranoid yang takut.

Berbeda dengan wahabi yang menghukumi musyrik para orang yang menghormat bendera saat upacara atau HTI yang ingin mengubah bentuk negara menjadi khilafah, Syiah justru sebaliknya menunjukkan komitmen dan bersetia pada NKRI, Pancasila dan UUD 1945. Jadi tak ada alasan melarang apalagi membubarkan Syiah. Sebagaimana ormas Islam lain yang terus mengkonsolidasi merubah negara. Setidaknya itulah yang kita tangkap dari hasil penelitian Litbang Departemen Agama yang dirilis
beberapa saat yang lalu..

***
Berbagai soal mengemuka. Pandangan, pendapat bahkan fatwa dilahirkan untuk menentukan masa depan Syiah di Indoenesia. Awalnya Syiah hanyalah soal internal umat Islam. Menyangkut wilayah aqidah. Pendapat jumhur ulama tentang Syiah juga sudah jelas: sesat. Bahkan sebagian menganggap Syiah bukan Islam. Syiah adalah sempalan yang dilarang. Jadi tak ada alasan untuk menerima Syiah dalam kehidupan bersama. Syiah adalah ancaman yang harus dicegah sejak dini. Ibarat api tak dibiarkan membesar membara.

Dalam perkembangannya Syiah bukan hanya soal internal Islam. Tapi meluas pada wilayah lain seperti sosial, politik, HAM termasuk bargaining untuk mendapat kekuasaan dan legitimasi. Kebebasan berserikat dan berkumpul termasuk beragama. Dijamin konstitusi. Dan Syiah cerdas mengelola menjadi sesuatu yang menguntungkan.

***
Bagaimanapun Syiah bukan kelompok kemarin sore. Bahkan mungkin dia lahir berbarengan dengan kelompok sunni dengan segala varian sejarah yang menyertainya. Syiah punya pengalaman dan kematangan membesarkan dan mempertahankan diri. Salah satunya dengan strategi Taqqiyah. Kita menyebutnya menyembunyikan keyakinan asli dan menampakkan yang bukan asli. Mungkin semacam kepribadian ganda.

Kepribadian dari hasil Taqqiyah inilah yang mungkin ditangkap para peneliti Litbang Depag. Bahwa Syiah realitas berbeda dengan persepsi publik. Dan mungkin benar, Syiah akan berhasil diterima menjadi bagian dari kehidupan keberagamaan kita.

****
Dari sinilah mungkin saatnya kita kembali ke titik nol. Belajar pada Syiah bagaimana menjadi minoritas yang baik yang ulet. Dan Syiah berhasil menjadi model minoritas yang diakui.

Syiah menarik banyak simpati anak muda terutama di kampus-kampus besar. Para mahasiswa mendapat informasi tentang Syiah justru dari kita sendiri. Berbagai seminar, halaqah atau sekedar Share hasil kopas tentang kesesatan Syiah yang kita selenggarakan justru berbalik menjadi promo gratis. Dan kelompok muda mahasiswa yang anti kemapanan mendapat jawabnya: Syiah.

Terbukti buku-buku tentang kesesatan Syiah laris terjual. Kajian dan seminarnya selalu dihadiri mahasiswa dan anak muda. Awalnya memang hanya ingin tahu selanjutnya mereka membentuk halaqah kecil. Kegemaran bertanya dan rasa ingin tahunya kerap menjadi pintu masuk bagi aqidah Syiah.

***
Siapa sebenarnya paling berkewenangan menentukan masa depan Syiah di Indonesia. MUI atau Depag. Dua institusi ini nampaknya akan berebut. Sikap MUI sudah jelas: Syiah sesat. Intoleran dan ancaman bagi NKRI.
Sebaliknya Pemerintah lewat tim peneliti Litbang Depag justru sebaliknya: Syiah akomodatif. Partisipatif dan kooperatif.

Taqqiyah terbukti ampuh untuk melawan. Bagi Syiah memenangkan sebuah petarungan tidak harus dengan cara mengumbar kekerasan dan fatwa larangan seperti sunni yang terus mengkafirkan. Termasuk rezim yang dianggapnya Thaghuts. Kebiasaan kita mengkafirkan pada setiap kelompok yang berbeda lama-lama dianggap biasa termasuk fatwa kafir terhadap Syiah dianggap sama dengan tuduhan kafer sebagian orang Sunni terhadap rezim yang dilawan.

Bukankah sunni meski mayoritas tetap lemah dari aspek politik, ekonomi bahkan sosial. Dan Syiah tidak takut. Syiah juga diuntungkan dengan sikap Sunni yang gemar menuduh Syiah terhadap ulama atau siapapun yang dianggap mendukung. Syiah menjadi bias. Dan banyak teman.

Terpenting saat ormas Islam lain ragu bahkan tidak sedikit yang bersikap anti NKRI, anti Pancasila. Syiah berbalik: berani setia pada NKRI. Tidak merubah fondasi negara dan UUD 1945. Syiah punya potensi besar menjadi partner politik penguasa ditengah kebuntuan mengurai konflik berkepanjangan. Toh NU, MUHAMADIYAH, SALAFY, WAHABBY, TABLIGH, IKHWAN, TAHRIR yang mengaku Sunni juga selalu ribut sejak berdiri. Demikian persepsi yang berhasil mereka bangun.

Saya pikir permainan masih terus berlangsung mungkin lebih besar dan menarik .. jalan masih panjang mari berbenah. Agar Syiah tidak terus membesar.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here