Komunitas Padhang Makhsyar #267: Ketika Pandawa Lebih Kurawa

0
486
Foto miniatur karakter pandawa diambil dari tamami jaya

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Di Bale Sigala itu mereka berdebat semalaman mengatur siasat dan strategi saling mengalahkan. Di meja judi itu semua dipertaruhkan. Dari soal pengaturan gambar dan angka dadu. Hingga pilhan melakukan revolusi saat jagonya kalah. Para Sengkuni berkumpul bersiasat dan saling menipu.

*^^^
Dengan muka merah karena marah Duryudana membantah semua nasehat ayahnya raja tua di Hastina Pura itu, “Orang yang mendalami samudra ilmu pengetahuan tanpa akal sehat seperti sendok yang tenggelam di makanan lezat. Tidak akan merasakan kelezatan dan manfaat makanan itu”, kata-kata Viyasa lancar terucap dari mulutnya.

Sambil mengutip pernyataan Brihaspati salah seorang gurunya yang bijak, Duryudana kembali berucap marah kepada bapaknya yang dianggapnya lembek dan bersikap terlalu lembut kepada Pandhawa: “Meskipun kewajiban bagi rakyat biasa, menahan diri dan puas diri bukanlah sikap mulia bagi seorang kesatria, tugas kesatria adalah terus mencari kemenangan”. Destarata tersinggung tapi diam karena raja tua itu terlalu sayang pada putranya.

Duryudana putra mahkota itu seorang kesatria culas, gemar mengutip kata-kata orang bijak dari para gurunya hanya untuk membalik sesuatu yang tidak baik menjadi tampak baik. Kegemarannya membalik kejahatan dengan pernyataan bijak para begawan.

*^*
Akan halnya Yudhistira yang dikenal sangat baik dan banyak menyebar kebajikan akhirnya tak kuasa juga menolak saat Widura pamannya yang diperintah Raja Destarata mengundangnya bermain dadu. Meski Widura tersirat sudah mencegahnya datang, sebab Widura tahu bagaimana siasat licik Sengkuni yang bakal mewakili Kurawa bermain judi, sebaliknya Yudhistira malah bersemangat datang dengan semua saudaranya berombongan.

Di Bale Sigala itu permainan dadu berlangsung. Antara Sengkuni yang mewakili Kurawa dan Yudhistira, seorang berdarah putih karena dikenal kesabaran dan kebaikan. Tapi tetap punya kelemahan, kecanduan bermain dadu. Artinya sebaik apapun seseorang masih saja punya sisi gelap. Dan judi adalah sisi gelap Yudhistira.

Semuanya dipertaruhkan, Yudhistira selalu kalah. Ia bermain dadu dengan jujur dan sportif dua buah sikap yang seharusnya tak perlu ada di meja dadu tapi disitulah uniknya, ia pertaruhkan semua saudaranya, harta dan semua perbendaharaan kerajaan telah habis ludes hingga dirinya sendiri termasuk Drupadi istrinya ia pertaruhkan.

*^*
Nafsu Yudhistira bertaruh di meja judi itu membuat terkesima semua yang hadir. Kekalahan yang sangat menyakitkan karena bukan hanya harta yang menjadi pertaruhan tapi harga diri, martabat bahkan semua saudaranya juga kehormatan Drupadi, istri Pandhawa dibenam di meja judi itu.

Seakan tak lagi berguna pengetahuan yang mereka pelajari sebelumnya. Atau darah putih yang mengalir di setiap persendian Yudhistira telah mengelupas berganti hitam pekat. Tak ada satupun kebaikan tersisa. Jubah dan sorban simbol kerahiban dan kebajikan itu kini luruh bercampur angkara, tak ada lagi yang tersisa sebab memertahankan harga diri ternyata lebih dominan.

Kesabarannya habis. Kebajikan pun tak lagi kuasa menahan amarah. Di meja judi itu Pandhawa terbawa pada arus siasat Sengkuni yang terus berusaha meyakinkan kepada publik tentang kebenaran yang diyakini termasuk fitnah baru untuk membakar bale sigala tempat Pandhawa kalah judi.

Bukan hanya Widura, Kripa, Bhisma, Salya dan Wiyasa yang terkesima, para Kurawa juga geleng-geleng kepala melihat Yudhistira berjudi. Ternyata Yudhistira jauh lebih gila, Yudhistira lebih Kurawa ketimbang Kurawa ketika bermain dadu.

*^*
Benarkah kejahatan dan kebaikan selalu berbanding lurus. Rasulullah saw bersabda setiap muslim bergantung masa jahiliyahnya. Yang masa jahiliyahnya pemberani, setia, taat pada sesembahannya dia akan lakukan hal yang sama saat menjadi muslim atau sebaliknya.

Demikianlah Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Salman Al Farisi, Abu Dzar al Ghifari, Mu’awwiyah dan para sahabat lainnya. Mereka adalah orang-orang baik pada masa jahiliyahnya.

Tapi dalam beberapa kasus, kebaikan tak selamanya benar dan menang, sebagaimana kisah pilu khalifah Ali ra, bersimbah darah saat belati menikam pada lambungnya pada pagi subuh saat ia menjadi Imam di tangan ulama zuhud Abdurahman Ibnu Muljam Al Maqri, karena Ali dianggap setuju atas usulan perjanjian damai Mu’awiyah ketika kemenangan sudah di tangan.
Pada akhirnya, ketika kekuasaan berada di tangan para Sengkuni memang akan melindas semua ..

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here