Komunitas Padhang Makhsyar #269: Abu Bakar Ba’asyir dan Politik Pembebasan

0
217
Foto Ustad Abu Bakar Ba'asyir diambil dari News Detiks

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ini soal politik, bukan hanya sekedar pasal-pasal yang ada dalam buku kitab hukum pidana sebagaimana dipahami para ahli hukum pidana bahwa Baasyir sudah semestinya bebas sesuai prusedur yang berlaku. Ini soal ‘politik pembebasan’ karena sarat dengan muatan politik baik regional maupun internasional.

*^^*
Publik Australia marah, pun dengan keluarga korban bom Bali, kubu oposisi juga ketakutan, kawatir pembebasan bersyarat Baasyir menaikan elaktabilitas petahana menjelang Pilpres, berbagai upaya dilakukan agar pembebasan dihambat syukur bisa di urungkan.

Saat mendengar ikhitiar pembebasan Baasyir. Hampir semua negara barat bersekutu menolak Baasyir bebas. Dunia menolak Pelaku kekerasan. Baasyir tak boleh bebas dan beraktivitas dengan siapapun dan diberi ruang berinteraksi dengan khalayak. Ini soal humanitas dan Baasyir adalah publik enemy, pembebasan nya adalah khianat terhadap stabilitas politik regional khususnya Australia yang warganya banyak menjadi kurban tindakan murid Baasyir.

Sydney Jones pengamat terorisme memberi komentar tentang pembebasan Baasyir: ‘Jika Jokowi dan para penasihat nya tidak ingin membangkitkan spekulasi bahwa semua ini dilakukan untuk agenda agenda politik, dan untuk menarik kaum konservatif Islam sebelum Pilpres yang akan diadakan bulan April 2019, mengapa mengambil keputusan sekarang ?

*^^*
Kalau Anda pernah berpikir bahwa pembebasan ustadz Abu Bakar Baasyir adalah soal hukum murni tanpa di ikhtiarkan pun akan bebas dengan sendirinya sebagaimana dipahami awam berarti Anda kurang ngopi, kalau main kurang jauh. Nyatanya pembebasan Baasyir cukup rumit alasan kemanusian Presiden Jokowi saja tak cukup.

Ada banyak variabel penyerta yang tak boleh ditabrak, hanya karena Baasyir sudah sepuh dan sakit. Dan sebagian kita masih tetap saja dengan kebiasaan lama: politik atas nama apapaun. Saat akan dibebaskan katanya itu sih biasa dan dianggap pencitraan setelah gagal kita bilang rezim ini gegabah dan php doang. Kita memang susah. Sebab politik telah membutakan kita semua.

Inilah peliknya, sebab niat baik saja tak cukup bahkan berbalik menjadi api dalam sekam. Sebab politik tak butuh kata tulus. Kebaikan yang dilakukan kerap dianggap pencitraan sedang kesalahan adalah kedunguan. Politik memang kejam lagi kotor ketika berada ditangan para ambisius yang lapar.

Pembebasan Baasyir bisa delay bahkan ada kemungkinan diurungkan karena pasar politik tak menjanjikan keuntungan. Kalkulasi politik juga tak berpihak, sebab bisa saja Baasyir sudah menjadi kartu mati. Tidak mengandung nilai yang bisa dipertawarkan secara politik. Apalagi menambah biting suara pada Pilpres mendatang.

*^^*
Pada akhirnya sebagai sesama muslim saya menghargai niat baik betapapun itu dan doa untuk kebaikan bagi siapapun yang telah berikhtiar berbuat baik meski tak kunjung berhasil … hanya Allah Yang Maha Baik.
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here