Komunitas Padhang Makhsyar #270: Nobel Untuk Muhammadiyah

0
159
Foto pendirian Bendara Muhammadiyah diambil dari suara muhammadiyah

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

MUHAMADIYAH juru damai. Umat Tengahan. Berpikir moderat dan bertindak terukur. Teruji oleh berbagai situasi sosial dan politik. Muhammadiyah piawai menawarkan jalan tengah, me-moderasi dan me-mediasi sehingga se-krusial apapun situasi politik tetap bisa diselesaikan dengan damai dan elegant. Sejak masa kompeni, masa kemerdekan, masa orde lama, masa reformasi dan semua pergantian rezim politik lainnya bahkan di kancah internasional Muhammadiyah mengambil peran signifikan baik kultural, struktural maupun ideologis. Karena alasan-alasan inilah maka Muhammadiyah layak diusulkan mendapat Nobel perdamaian.

*^^*
Menurut Ketua Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (PSKP UGM), Najib Azca, Muhammadiyah dan NU menjadi kekuatan penting pendukung dan penyokong gerakan reformasi,” salah satu Buktinya ialah aliansi empat tokoh populer yang disebut tokoh Ciganjur yaitu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkuwono X. Mereka masing-masing mewakili kelompok Islam tradisional, Islam modernis, nasionalis, dan politik serta budaya Jawa.

Kombinasi Gus Dur yang mantan pimpinan tertinggi NU dan Amien Rais yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, menurut Kunto, merupakan pilar bagi gerakan pro-demokratisasi di Indonesia. Amien terkenal sebagai tokoh reformasi yang mengkritik pemerintah Presiden Soeharto. Sementara Gus Dur aktif menggalang dukungan lintas etnis dan agama melalui Forum Demokrasi yang mengkritik kebijakan otoriter Orde Baru.

Kedua organisasi Islam itu juga bekerja sama meminimalisir kegarangan gerakan Islam transnasional, seperti salafi-wahabi, HTI, Ikhwanul Muslimin (IM) dan lainnya. Mereka membendung gerakan itu dengan mengeluarkan suatu putusan atau fatwa. Mereka melarang penggunaan amal usaha dan fasilitas Muhammadiyah oleh partai politik terutama oleh PKS dan penolakan NU atas gerakan Islam transnasional yang dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia.

Kunto mengatakan, Muhammadiyah dan NU juga memainkan peran penting dalam membangun basis bagi budaya politik damai dan demokratis. Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program dan amal usaha yang dilakukan di berbagai bidang, termasuk pendidikan, dakwah, sosial dan ekonomi.

*^^*
Dua pilar kekuatan (Muhammadiyah dan NU) telah 100 tahun lebih membangun negeri. Berdiri kokoh. Terus memberi tanpa banyak kata dan jargon. Cinta tanah air dibuktikan dengan banyaknya amal saleh demikian kata Kyai Haidar Nashir Ketua PP MUHAMMADIYAH yang terus mengibarkan semangat filantropi dan tradisi intelektual di MUHAMMADIYAH.

Dari sisi perdamaian, apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah dan NU tersebut bisa dilihat sebagai ikhtiar membangun ‘perdamaian positif’ yang berarti menghilangkan aneka bentuk kekerasan struktural dan kultural yang ada di masyarakat dalam rangka mewujudkan keadilan sosial,” ujar Prof Kunto.

*^^*
Di dunia internasional, Muhammadiyah dan NU turut ambil andil dalam menjaga perdamaian. Muhammadiyah fokus pada program filantropi dan bantuan kemanusiaan. Muhammadiyah mendirikan rumah sakit dan sekolah di Rakhine State, Myanmar, dan Palestina, serta menyediakan ratusan beasiswa penuh untuk komunitas Mindanao di Filipina dan Pattani di Thailand Selatan. Muhammadiyah juga memberikan pemberdayaan ekonomi serta pendidikan di kalangan Bangsa Moro Filipina.

Sementara NU berfokus pada upaya mencari resolusi konflik serta upaya bina damai di sejumlah zona konflik internasional seperti di Afghanistan. Mereka mengirimkan delegasi-delegasi ulama Indonesia kesana, maupun sebaliknya, mengundang pihak yang bertikai untuk bertemu dan mencari solusi damai di bumi Nusantara.
NU juga mencoba mengambil peran meretas jalan damai dalam konflik Palestina-Israel dengan misi perdamaian yang dilakukan oleh Gus Dur. Upaya itu kemudian dilanjutkan oleh Yahya Cholil Staquf.

*^^*
Muhammadiyah dan NU adalah dua pasang kekuatan kultural reformis sekaligus ideologis yang mengatasi segala soal di negeri ini, peran keduanya dalam mendamaikan, menjaga emosi dan ritme pergerakan dan perubahan patut dipuji …

 

* Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here