Komunitas Padhang Makhsyar #271: Matinya Kepakaran: Ikhtiar Membangun Kembali Tradisi Intelektual Muhammadiyah

0
193
Foto siswi SD Muhammadiyah di Blitar sedang melaksanakan budaya literasi diambil dari Google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Tulisan cantik dari buku yang
ditulis Ton Nichols tentang The Death Expertise (matinya kepakaran), tahun 2017. Menarik disimak, setidaknya menjadi bahan bincang segar. Pola baca masyarakat sudah berubah. Orang lebih suka baca status ketimbang buku atau jurnal. Sementara penelitian dan seminar hanya untuk meraih kepentingan jangka pendek. Ukuran kepakaran hanya dilihat pada seberapa sering menulis status atau cuitan di tweet atau Ig. Bukan tulisan hasil riset.

Ton Nichols menyebut bahwa Masyarakat Amerika hidup dalam kedunguan (ignorance) karena bangga tidak mengetahui banyak hal. Gelombang ‘literasi instan’ telah melahirkan masyarakat dungu. Kegandrungan pada literasi instan (share dan kopas) telah mengancam kepakaran. Meski tidak bersangkut dengan keahlian dan profesi.

Status dan meme setidaknya telah membenam budaya baca dan riset. Pengetahuan di dapat dari status dan meme. Tak terbayang, jika separo pengetahaun yang ada di kepala kita adalah hoax.

*^^*
Muhammadiyah itu tradisinya intelektual. Kalau tidak kembangkan tradisi intelektual, bukan hanya mengkhianati Ahmad Dahlan, tetapi juga tidak membaca Al-Qur’an dengan baik. ~pesan Dr Haedar Nashir di ITB-Ahmad Dahlan, 19 Jan 2019~ cc:

Selanjutnya Haidar Nashir bertutur:’Bagi MUHAMADIYAH memajukan peradaban harus dengan ilmu disamping akhlaq mulia. Kyai Ahmad Dahlan disamping cinta ilmu beliau juga gemar berdialog dengan mereka yang berbeda paham. Beliau bahkan mengutip surat Az zumar 18 tentang ciri ulul albab. Dalam memelihara tradisi ke ilmuan itulah maka MUHAMADIYAH senantiasa terbuka terhadap berbagai pemikiran untuk meraih kemajuan. MUHAMADIYAH niscaya konsisten dengan sikap kritis dan berwawasan ke ilmuan. Warga Muhammadiyah di manapun harus gemar ilmu dan tidak boleh alergi dan menghalangi aktifitas-aktifitas keilmuan.

Haidar Nashir bisa saja mulai jengah karena tradisi intelektual di MUHAMADIYAH mulai menurun. Mungkin saja telah mati. Miskin konsep dan ide-ide baru sebagai ciri organisasi modern yang pernah ditabalkan pada MUHAMADIYAH di awal berdiri kini mulai di soal. Sebab banyak aktifis yang hanya giat mencari penghidupan sebagai administratur, karyawan di amal usaha muhammadiyah atau lainnya. Tapi jarang bahkan ada yang tidak sama sekali hadir di kajian-kajian keilmuan sebagai ruh pergerakan.

*^^*
Nyatanya sebagian besar malah suka baca status atau meme ketimbang buku. Daya literasi juga rendah tak pernah baca buku apalagi mau beli atau telaah hasil riset. Dari cuitan Twitter atau Instagram itulah pengetahuan sebagian besar di dapat lalu apa yang dibanggakan. Tak urung Ustadz Haidar Nashir pun gerah dan kembali mengingatkan tradisi ber-Muhammadiyah yang mulai tergerus.

Menghidupkan kembali tradisi keilmuan. Agar Muhammadiyah tak hanya sekedar menjadi pergerakan sosial biasa atau amal bisnis konvensional semata. Memperbanyak pusat-pusat studi, halaqah atau komunitas keilmuan lainnya adalah niscaya, mesk tidak populair dan dipandang sebelah mata … tapi percayalah : Bahwa peradaban dunia tidak dibangun oleh berapa harga tiang pancang satu pondasi. tapi oleh budaya literasi yang melahirkan banyak amal saleh …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here