Komunitas Padhang Makhsyar #273: Politik Praktis di Serambi Masjid: Buletin Indonesia Barokah Vs Buletin Kaffah

0
128
Foto sampul majalah suara muhammadiyah diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jika semakin banyak jamaah yang merasa tak nyaman berada di suatu masjid karena menjumpai masjid tempat ia biasa melaksanakan shalat mempublikasikan kepentingan politik. Maka jangan dipersalahkan jika suatu saat nanti akan ada masjid-madjid yang di bangun oleh satu partai politik: Masjid PDIP, masjid Golkar, Masjid PKS, masjid PKB atau masjid Nasdem dan masjid PSI. Sebab kesamaan aspirasi politik menjadi salah satu syarat di bangunnya sebuah masjid. Untuk apa saya shalat di sebuah masjid jika capres yang saya dukung di caci maki.

*^^*
Dua buletin sedang bertarung. Berebut tempat di serambi masjid. Entah apa yang dicari. Di rumah Tuhan itu keduanya berebut benar. Saling memaki dan mencela atas nama kebenaran yang diyakini. Dua pasang capres itu telah masuk ke wilayah paling sakral. Wilayah yang seharusnya disucikan bersama untuk menyebut asma Allah bukan kebesaran dan keagungan capres yang di dukung.

Dua edisi buletin ‘Kaffah’ yang di edisi 18 Januari 2019 berjudul ‘Stop Mendukung Penguasa Gagal dan Ingkar Janji’ serta edisi 25 Januari 2019 berjudul ‘Mewaspadai Kepemimpinan Orang-orang Bodoh’. Buletin ‘Kaffah’ merupakan kampanye hitam dari kubu Prabowo ke Jokowi. Buletin ‘Kaffah’ dengan selebaran ‘Say No!! Jokowi-Ma’ruf Amin’.

Tidak lama berselang, puluhan ribu eksemplar buleti Indonesia Barakah beredar luas di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Dengan Judul besar: Prabowo Marah Media di Belah. Kemudian : Reuni 212: Kepentingan Umat atau Politik. Buletin ini disinyalir sebagai reinkarnasi Obor Rakyat milik PKI. Meski masih baru isu. Tapi aroma seteru dua buletin Jumat sungguh memilukan karena berlangsung di serambi masjid. Naudzubillah …

*^^*
Tak perduli siapa yang buat. Dengan tujuan yang saya semakin tidak perduli. Tapi saya sangat prihatin ketika masjid-masjid berubah menjadi tempat kampanye dan bermain politik praktis. Apalagi dengan cara-cara yang sama sekali jauh dari Akhlaqul karimah. Sebar Hoax, fitnah, saling caci dan maki justru terjadi di serambi masjid.

Para jamaah membaca propaganda politik dua pasang capres sebelum melakukan ritual mendengar Khutbah dan dua rakaat Jumat. Sungguh mengerikan jika agama dibawa pada wilayah paling krusial. Jamaah terbelah saling memaki di dalam masjid. Ketika mimbar-mimbar masjid dijadikan tempat untuk berebut suara dan sokongan terhadap salah satu capres yang didukung.

Apa ada jaminan bahwa di dalam masjid semua jamaah nya satu suara. Lantas apa kira-kira yang ada di pikiran jamaah ketika mendengar salah seorang khatib menjelekkan satu pasangan dan memuji pada pasangan lainnya dilakukan di atas mimbar. Atau buletin Jumat yang ia terima juga menjadi partisan.

*^^^
Mestinya masjid menjadi tempat untuk menyatukan berbagai perbedaan dan pilihan politik, bahkan menjadikan tempat menyucikan dan pertobatan segala kotoran yang dibuat para politisi dihadapan Tuhan, bukan malah sebaliknya. Menjadikan masjid sebagai alat untuk menebar benci atas nama nahy munkar. Seakan tak ada lagi ruang kosong semua dijarah oleh politik. Masjid tempat kita uzlah dan bertaqarrup pun dirampas pula.

Jangan dipersalahkan bila ada niat untuk membangun masjid yang sesuai aspirasi politik. Semacam masjid partai. Karena masjid yang ada sekarang sudah tak lagi kondusif bagi partai tertentu, sebab masing-masing masjid melakukan propaganda sesuai kepentingan dan kebutuhan partai politik yang sehaluan. Masjid yang ada sekarang mulai tak netral dan berpihak pada salah satu calon atau partai politik atau ormas tertentu. Jangan salahkan bila jamaah kemudian menjauh dari masjid karena tak lagi nyaman …
Wallahu ta’ala a’lam

*Ketua  Majelis Ulama Indonesia Kota Batu  dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here