Komunitas Padhang Makhsyar #275: Teknik Menebus Doa yang Tertukar

0
337
Foto KH Maimun Zubair saat mendoakan prabowo diambil dari hidayatullah.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Gerung pun mulai tak pandai memilah kata kebingungan bedakan: Manipulasi dan manipulatif. Komunikasi dan komunikatif. Taktik dan taktis, edukasi dan edukatif. Fiksi dan fiktif. Gerung membangun istana kedunguan. Terjebak dalam tempurung kata-katanya sendiri. Sepertinya akal sehat yang dibanggakan nya itu mulai kelelahan dan kehabisan energi. Kemerdekan berpikir hanya sebatas narasi tanpa aksi.

*^^^
Mestinya saya gunakan analisis fiqh atau tasawuf, tapi karena ini adalah orde filsafat maka saya dengan amat terpaksa menggunakan filsafat sebagai pisau analisis agar terlihat ‘milosof’ untuk membedah kajian ephistimoghis dan axiologisnya atas prilaku doa salah sebut nama.

Dalam kajian ephistimologhis, doa adalah inti ibadah atau kepalanya ibadah, sebagai penghambaan dan bentuk kerendah hatian seorang hamba kepada Rabb yang Maha Tinggi. Maka jangan berdoa yang membuat kerusakan dan permusuhan.

Dalam bentuk axiologisnya doa bisa dicandra Sebagai bentuk penghambaan. Maka orang yang tak mau berdoa disebut sebagai orang paling sombong karena merasa tak butuh. Allah mengabulkan setiap doa tanpa ke cuali. Berdoalah kalian kepadaKu niscaya aku akan mengabulkannya untuk kalian.(Al Ghafir:60).

*^^*
Belum ada yurisprudensi atau uswah dari nabi saw dan para sahabat dan ulama salaf tentang kemungkinan mengklarifikasi doa salah ucap. Doa salah ucap bermula dari hati yang lalai. Tidak satunya antara pikiran, hati dan ucapan maka memungkinkan ketidak sinkronan antara maksud hati dan lisan yang terucap.

Nabi saw berkata: ‘Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Bersatunya ucapan pikiran dan hati. Tuhan tidak menerima doa dari hati yang lalai. Yaitu ketidak sesuaikan antara ucapan dan hati.

Doa salah ucap bisa diralat atau diklarifikasi. Sebagaimana Allah juga melarang orang mabuk melaksanakan shalat karena kawatir mengucapkan perkataan-perkataan yang salah atau keliru tidak sesuai dengan maksud dan tujuan berdoa.

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,… an Nisa 43.

Abdurahman bin Auf mengundang Ali bin Abi Thalib dan kawan-kawan untuk berpesta. Pada pesta tersebut dihidangkan khamr (minuman keras) – pada saat itu belum turun ayat yang mengharamkannya – sehingga mereka mabuk. Ketika waktu shalat tiba, mereka menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk berdiri sebagai imam dalam melakukan shalat jama’ah. Pada waktu Ali bin Abi Thalib membaca surat Al-Kafirun terjadi kesalahan, yaitu: Qul yaa ayyuhal kaafiruun. Laa a’budu maa ta’budun wa-nahnu na’budu maa ta’buduun (katakanlah: wahai orang-orang kafir! Aku tidak menyembah apa yang menjadi sesembahanmu. Dan kami menyembah apa yang kamu sembah).

*^^^*
Teknis pengabulan doa setidaknya ada tiga cara :
Tidaklah seorang Muslim berdoa yang tidak mengandung dosa dan tidak bertujuan memutus silaturahmi, melainkan Allah swt akan mengabulkannya dengan tiga cara; (1). Allah akan mengabulkan doanya sesegera mungkin, (2). Allah akan menyimpan (menjadikannya pahala) baginya di akhirat kelak, dan (3). Allah akan menjauhkan darinya kejelekan. Mereka (para sahabat) berkata: “Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi saw lantas berkata: “Allah akan banyak menjawab doa-doa kalian.” (HR. Ahmad).

*Ketua Majelis  Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat  Komunitas Padhang Makhsyar

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here