Komunitas Padhang Makhsyar #277: Ketika Agama Menjadi Candu

0
80

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Agama adalah candu kata Marx yang kesal dengan ulah agamawan korup di abad pertengahan. Gerung juga tak salah: ‘agama adalah ciptaan Tuhan yang paling ia sesali.’. Melihat ada sebagian agamawan yang menjadikan agama sebagai alat untuk menggaruk kekuasaan dan pendapatan. Marx dan Gerung memang mirip dan banyak kesamaan. Entah pintar yang mana.

*^^*
Karen Amstrong menulis, saya pernah diharuskan menghafal Katekismus berkaitan dengan pertanyaan apakah Tuhan itu.
“Tuhan adalah Ruh Maha Tinggi, Dia ada dengan sendirinya dan Dia sempurna tanpa batas”. Tidak mengherankan jika konsep itu kurang bermakna buat saya. Konsep itu juga merupakan definisi yang kering, angkuh dan arogan. Selanjutnya dia mengatakan “Keyakinan masa kecil saya tentang ajaran Katholik Roma lebih merupakan sebuah kredo yang menakutkan”.

Kegelisahan Karen Amstrong barangkali bisa dimengerti karena konsep tentang Tuhan dan agama telah mengalami reduksi. Wajah Tuhan telah menjadi angkuh dan menakutkan, agama telah diubah menjadi alat intimidasi dan teror. Berbagai kekerasan yang mengatas namakan agama telah menjadi hantu menakutkan, konflik antar agama maupun internal tak lagi bisa dibendung.

*^*
Agama adalah candu masyarakat, demikian Marx menyatakan kejengkelannya kepada para agamawan Eropa yang korup, yang melahirkan penindasan kemudian diberi cap agamis, Marx sesungguhnya tidak benar-benar menentang agama tapi menentang suatu sistem yang menciptakan ilusi-ilusi. Sama seperti Gerung:’ agama adalah ciptaan Tuhan yang paling ia sesali’ tulisnya kethus.

Agama adalah desakan makhluk tertindas, dari hati yang kering dan dunia a-moral. Mungkin saya tidak sependapat, anggap saja pernyataan Marx sebagai nasihat. Bagaimanapun agamawan dan ruhaniwan bukan sekumpulan orang ma’shum yang terjaga. Pun dengan Gerung yang mulai tak simpatik dengan perilaku kaum agamawan yang menjadikan agama sebagai alat untuk menggaruk kekuasaan.

*^*
Otensitas ajaran agama adalah mengajak berbuat bajik dan mencegah munkar, menjadi soal ketika agama mulai memaksakan kehendak bahwa hanya agamanya yang paling benar yang lain dipandang salah. Kemudian mengusung ayat sebagai pembenar untuk meniadakan yang berbeda.

Konflik antar dan internal agama sering terjadi karena masing-masing pengikut menjadi gampang tersinggung, gampang marah dan tidak suka memaafkan. Kepada siapa segala soal bisa dijawab bila para pengikut agama telah berubah menjadi monster yang setiap saat bisa menerkam siapapun yang dipandang salah.

Fungsi para pewaris nabi adalah menjaga keseimbangan agar harmoni tetap terjaga. Itulah makna simbolik bahwa ulama dan agamawan adalah para penggembala, tetap obyektif ditengah kelimun konflik dan perdebatan paradigma. Tidak larut mencela karena keduanya adalah ternak gembalaanya. Agamawan ditagih tetap di tengah, tidak radikal juga tidak liberal biar agama tidak menjadi candu atau ciptaan yang paling disesali.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here