Komunitas Padhang Makhsyar #279: Bermuhammadiyah Itu Mengasyikkkan

0
247
Foto Nadjib Hamid dan Arif An untuk dimenangkan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah ( DPD) Republik Indonesia No Urut 41 dan Calon Legislatif DPRD Jawa Timur No Urut 4 Partai Amanat Nasional diambil oleh Ferry

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Bermuhammadiyah itu, harus menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus mencerdaskan. Lebih jauh lagi sampai pada tahapan memberdayakan … bukan sebaliknya.
Ghiba, ftnah, sebar kabar hoax, saling mencela itu tidak mengasyikkan tapi menyeramkan … sebab mengurang pahala kebajikan.

*^^*
Sangat tepat bagi Muhammadiyah untuk merenungkan kembali sekaligus membaca realitas dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dalam perspektif agama. Utamanya jika dilihat dari perspektif Muhammadiyah secara khusus.

Saat K.H. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah ditanya tentang, “Apakah Islam itu?” Jawaban Kiai Dahlan, bagi Prof Malik Fadjar, sangat sederhana dan sangat mendasar. Islam itu ialah, setelah iman yakni kemanusiaan”.

Lantas, apa dasar pertimbangan Kiai Dahlan menyatakan hal ini? Selain menjelaskan melalui dasar-dasar perintah Al Quran melalui banyak ayat yang tercantum di dalamnya, Kiai Dahlan mengaktualisasikan berbagai perintah dalam al Quran melalui aksi nyata.

*^^^*
Amal sholeh adalah amal yang sejalan dengan hati nurani. Hati nurani pasti selalu memihak kebenaran, kemanusiaan dan banyak hal baik, yang diwujudkan oleh Muhammadiyah dengan gerakan al Ma’un atau Teologi al Ma’un. Yakni terminologi pemikiran dan praktik keberagamaan

Dengan surat al Ma’un itu lahirlah sekian banyak gerakan kemanusiaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah setelah melampaui usia satu abadnya. “Sehingga, dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada kita semua bahwa kunci dalam beragama adalah kemanusiaan,”

Nabi Muhammad saw: ‘Kamu tidak akan mampu mencukupi kebutuhan manusia, mendamaikan seluruh persoalan kemanusiaan sekadar dengan harta kekayaan dan pangkat kedudukanmu. Tetapi kamu akan bisa mewujudkan kehidupan yang mensejahterakan dengan akhlakmu,”

*^^*
MUHAMADIYAH adalah wujud harakah kemanusian, bukan musuh kemanusian. Keberadaan nya menjadi bagian penting kemanusian secara menyeluruh. Menjernihkan yang keruh, memandu haluan sekaligus memberi tanda labuh di Tanjung harapan, bukan mencela dan memusuhi atau malah menjadi bagian dari masalah. Memberi jalan tengah dan mengurai masalah di saat negara di rundung berbagai soal. Dari politik hingga soal-soal kemanusian lainnya. Beragama Yang Mencerahkan adalah tema yang patut direnungi semua warga Persyarikatan di semua lapis.
Wallahu taala a’lam

Repost:
*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here