Komunitas Padhang Makhsyar #280: Calon Presiden Bathil Pasti Kalah

0
120
Foto KH Maimun Zubair saat mendoakan prabowo diambil dari hidayatullah.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jika segolongan yang membawa panji muslim kalah dari segolongan muslim
lain yang dianggap kafer, berati Allah memang menghendaki yang demikian …. apa ada alasan pembenar mengapa Mujahidin dan Taliban bertarung di Afghan .. Yaman, Syuriah, Aljazair dan negara-negara dimana sesama muslim tak pernah mau berhenti bertengkar … meski sama-sama membawa panji bertulis kalimat tauhid dan dengan pekik takbir yang sama mereka saling membunuh atas nama iman ..

*^^*
Mari bersepakat:
Pertama, pemenang Pilpres tahun 2019 adalah Pandhawa. Kurawa pasti kalah. Karena culas. Tak kuasa menahan ambisi. Suka mencari ribut dan senang sebar kabar dusta. Sengkuni adalah pabrik dusta. Perang Bharatayudha juga karena ulah Sengkuni yang banyak menghasut.

Kedua, pemenang Pilpres adalah kebenaran yang mengalahkan kebatilan. Calon Presiden Yang bathil pasti hancur dan kalah. Allah berfirman: Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (QS.al-Isra’:81). Capres yang bathil pasti lenyap dan kalah. Siapa capres bathil itu ? Capres yang kalah itu jawabnya.

Ketiga, capres pemenang adalah Hizbullah. Capres yang kalah adalah hizbus syaithan. Hizbullah tak pernah kalah tapi selalu menang. Hizbus syaithan membuat berbagai tipu daya untuk mengalah kan Hizbullah. Tapi semua tipu daya hizbus syaithan bisa dikalahkan. Allah berfirman: “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”

*^^*
Kesaksian Prof Amien bahwa Pilpres 2019 ibarat nya seperti perang Bharatayudha atau ARMAGEDHEON menarik
di simak setidaknya sebagai bahan bincang agar Pilpres kian renyah karena banyak cerita dan kisah.

Masing-masing merasa membawa dan membela panji kebenaran dan lawan politiknya adalah gerombolan ke-bathilan yang harus enyah. Siapa Hizbullah siapa hizbus syaithan. Siapa Pandhawa dan siapa Kurawa. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Pertengkaran internal umat Islam memang tak bisa dilihat secara hitam putih. Benar salah atau kalah dan menang. Bahkan para khalifah dan salafus salih juga tak bisa menghindar dari pilihan dielematis. Sebagian mendukung Abu Bakar ra dan sebagian berbaiat mendukung Ali ra dan sebagian lagi diam. Ketiganya membawa pengikut dan kebenaran untuk dibela hingga mati. Jaman khalifah memang belum ada demokrasi sehingga tak ada pungut suara untuk menentukan siapa yang paling banyak dikehendaki apakah Abu Bakar ra atau Ali ra yang dikehendaki umat.

*^^*
Lantas siapa pembela dan pembawa panji kebenaran itu ? Pendukung Jokowi atau pendukung Prabowo. Itulah rumitnya kalau politik dibawa ke ranah theologis. Kita bertengkar dengan menggunakan ayat dan dalil yang sama.

Demikianlah Allah Membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi.” (QS.ar-Ra’d:17).

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26].

*^^*
Legawa kata kuncinya, menerima apapun hasil pilihan rakyat. Tidak boleh ada pertengkaran lanjutan setelah tanggal 17 April 2019. Gerung menyebut tgl itu sebagai hari kemerdekaan berpikir. Suara rakyat dihitung. Apapun hasilnya tak boleh lagi ada protes, tak boleh ada pertengkaran atau menyoal suara Tuhan. Kecuali yang memang sejak awal menyukai pertengkaran itu sendiri.

Kebenaran milik Allah bukan milik segolongan pendukung yang mengaku benar atau sebaliknya. Jadi siapapun, yang di kehendaki Allah berkuasa atau dicabut kekuasaanya. atau siapapun yang dimuliakan Allah atau dihinakan, maka terimalah sebagai penghakiman dan tak perlu beralibi bahawa hizbus syaithan menang karena curang atau alasan lain karena sebab tak terima kekalahan sebab yang ada di pikiran hanya menang … terima saja kekalahan itu sebab Allah menghendaki yang demikian … pantas saja tidak diberi kemenangan sebab terus saja mencari pembenar dan tidak menjadikan kekalahan sebagai jalan taubat …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here