Komunitas Padhang Makhsyar #283: Tanwir Bengkulu: Politik Tinggi Tanpa Perantara

0
126
Logo Tanwir Muhammadiyah 2019 di Bengkulu

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Berbeda sengan PKB dan PPP yang berkontribusi langsung dan positif kepada NU, maka PAN terkesan bermain politik dan bekerja sendiri. PAN berpolitik untuk partai, sama sekali tak ada kaitannya dengan Muhammadiyah meski berbagai bukti sejarah menyebut bahwa PAN lahir dari rahim Muhammadiyah.

Meski ada kedekatan emosional dengan Muhammadiyah tak ada bukti otentik bahwa PAN mengakomodasi aspirasi warga Persyarikatan. Jihad politik PWM Jatim adalah bukti otentik bahwa PAN bukan saja belum, tapi juga telah gagal menjadi patron politik Persyarikatan baik secara politis, ideologis dan apalagi untuk kepentingan dakwah. Muhamadiyah kerap harus bekerja sendirian untuk menyalurkan aspirasi nya ke penguasa. Atas dasar itulah maka jihad politik menjadi wajib..

‘Muhammadiyah itu bukan Amien atau saya, tapi Bung Haidar .. ” kata Buya Syafi’i seperti hendak menepis tentang kemungkinan Muhammadiyah ada di banyak tangan yang mengaku merepresentasi.

*^^*
Tanwir Bengkulu adalah salah satu ikhitiar atau ijtihad politik di tengah buntu. Muhammadiyah ingin langsung head to head bertemu dengan para kandidat. Membincang soal negeri, bangsa dan keumatan secara holistik tanpa perantara.

Tanwir Bengkulu memotong jarak komunikasi politik. Segala sesuatu, baik orang atau institusi yang memerankan diri sebagai berhala atau washilah dibuang. Dengan begitu akan menjadi jelas sikap kedua kandidat terhadap Muhammadiyah secara politis sekaligus mengukur daya tawar secara langsung tanpa perantara. Sayang satu kandidat terhalang jarak tempuh dan lokasi yang katanya tak boleh menjadi ajang kampanye.

*^^*
Bagi seorang pecinta jarak bukan menjadi alasan untuk menghalang. Selama masih di Indonesia maka alasan jarak yang jauh sungguh klise ditambah karena tempat Tanwir berada di kampus yang tak boleh menjadi ajang kampanye semakin menambah kesan bahawa memang hanya segitu bukti ‘cintamu padaku”.

Ketidak hadiran salah satu kandidat Presiden memang tak mengurangi kekhidmatan Tanwir, nyatanya berlangsung meriah, sukses dan mencerahkan. Sebuah indikasi bahwa Muhammadiyah memang organisasi tua yang sangat berwibawa.

MUHAMADIYAH seakan hendak menunjukkan kepada publik bahwa Keberadaan Islam di Indonesia tidak bergantung pada sebuah rezim pun dengan Muhammadiyah yang sudah lahir dan eksis semenjak masa kompeni, jauh sebelum negeri ini lahir.

*^^*
Semoga Pilpres cepat selesai, perbedaan pilihan politik tak harus memutus ukhwah. Segera move on dan masing-masing kita kembali berkhidmat di masjid, rumah sakit, sekolah, bait amal, panti asuhan dan amal saleh lainnya. Kembali seperti semula, tanpa luka karena politik.
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here