Komunitas Padhang Makhsyar #285: Revolusi Tidak Dapat di Pesan

0
170
Foto para calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2019-2024 diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Ini Pilpres paling rumit. Paling tegang. Paling melelahkan sekaligus paling lucu. Di mana orang tua, para ulama, para cerdik cendekia berdebat membela jagonya seperti anak kecil. Sejak kapan si miskin menjadi pembela borju si tuan tanah karena diketahui jagonya punya ratusan ribu hektar tanah. Sebaliknya ada kawanan kapitalis kaya belagak pilon membela si miskin yang telah lama dikeruk dan dieksploitasi.

*^^*
Saya baru tahu sekarang. Kenapa Junjunganku saw berpesan agar kita bersikap biasa, wajar atau sedang-sedang saja, tidak berlebihan. “ Cintailah kekasihmu sedang-sedang saja, boleh jadi suatu hari yang engkau cintai itu menjadi orang yang paling engkau benci. Bencilah apa yang engkau benci, dengan sedang –sedang saja. Boleh jadi sesuatu yang engkau benci itu suatu hari akan menjadi apa yang paling engkau cintai (Hr Thurmudzi). Bersikap biasa, membuat tetap adil dan rasional. Itulah kuncinya.

Gombloh pernah bilang ‘tahi kucing rasa coklat’ tentang cinta buta. Sebab politik telah kehilangan rasionaliatas, yang mengaku sebagai penyangga akal sehat pun juga kurang sehat. Sebab mengunyah tahi kucing sambil mencari pembenar itu coklat. Kualitas demokrasi menyusut bahkan yang paling mengkawatirkan membawa agama di ranah paling rawan konflik.

Prilaku kepolitikan dalam berdemokrasi seperti kawanan dengan banyak maksud. Meski terlihat satu kubu tak bisa dinafikkan bahwa masing-masing membawa gerbong kepentingannya sendiri-sendiri. Banyak penumpang. Saling menyembunyikan maksud. Boleh jadi saling memperalat. Atau Saling menunggu dan menikung di injure time.

*^^^*
Hasyim Djojohadikoesoemo menepis tegas bahwa Prabowo adiknya tak mungkin mendirikan khilafah. Mungkin benar. Bahkan secara ideologis sangat tak mungkin sebab ia sendiri berlatar belakang Kresten dan gerindra partai yang menyokong Prabowo adalah nasionalis sekuler. Tapi politik tak sesederhana itu apa harus ada filter terhadap penumpang yang masuk ketika ia mampu beli tiket untuk memenuhi gerbong. Jadi politik tetap saja saling menguntungkan dan saling memanfaatkan.

Berbagai agenda mulai terindikasi. Sebab tidak semua ingin ganti Presiden. Siapapun rezim selalu ada pembrontak yang ingin merubuhkan. Sebaik apapun sistem selalu ada sekelompok yang ingin merubah. Pilpres kali ini bukan murni hanya soal ganti pemimpin atau ganti Presiden tapi sebuah akumulasi kepentingan dari beragam kelompok yang ingin berkuasa.

Pilpres hanya salah satu cara untuk mengganti Presiden. Dan masih banyak cara lainnya yang bakal dilakukan termasuk ketika Presiden yang diusung kalah. Revolusi salah satunya. Semacam gerakan rakyat yang masif. Dan itu mulai nampak terlihat, berbagai ajakan dan ceramah, terus dilakukan. Termasuk indoktrinasi membuat benci terhadap penguasa dan rezim yang berkuasa untuk membangkitkan kemarahan kolektif sudah mulai sistematis dilakukan. Mereka tak ada dalam tim kampanye di kedua capres tapi hadir dan membawa semangat revolusi, bukan Pilpres yang demokratis. Tapi pergantian pemimpin dengan cara yang mereka mau.

*^^*
Tapi Revolusi tak bisa dipesan yang bisa di makan hangat. Sampai di sini saya teringat keluarga terakhir Tsar Rusia yang habis tak bersisa ditembak mati oleh kaum bolsywik usai sesi pengambilan foto. Atau nasip naas Louis XVI yang menjadi kurban kemarahan rakyatnya digantung di guiletone.,atau kekhilafan ottoman yang rubuh digerus modernisasi, dan isu global yang membuatnya hilang legitimasi banyak wilayah yang melepaskan diri, di dalam negeri di goyang seperatisme dan kaum nasionalis sekuler yang haus kekuasaan.. pada akhirnya politik memang akan menemukan buahnya sendiri.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here