Komunitas Padhang Makhsyar #288: Jihad Politik Muhammadiyah: Keummatan, Kebanggsaan dan Ke Indonesia an

0
114
Foto Nadjib Hamid dan Arif An untuk dimenangkan menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah ( DPD) Republik Indonesia No Urut 41 dan Calon Legislatif DPRD Jawa Timur No Urut 4 Partai Amanat Nasional diambil oleh Ferry

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

MUHAMMADIYAH Bukan di disain sebagai mesin politik. Kekuatan MUHAMMADIYAH bukan pada jumlah biting suara. Muhammadiyah adalah sumber kekuatan moral dan etis sekaligus kekuatan intelektual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ir Soekarno, Prof Abdoel Kahar Muzakkir, Ki Bagus Hadikoesoemo dan Mr Kasman Singodimedjo adalah gabungan kualitas iman yang kuat, moral, etik dan intelektual. Ke emapatnya adalah aktor intelektual Piagam Jakarta. Dan peletak Dasar Fallsafah Bangsa.

*^^^*
Prestasi besar Reformasi 98 adalah mengganti Soeharto yang kukuh berkuasa selama 32 tahun tanpa tanding. Mengganti sistem Otoriter represif dengan demokrasi. Dan kebebasan politik tanpa batas setelah sekian lama diberangus.

Tapi jujur banyak indikasi menyebut, bahwa orde reformasi adalah pengulangan rezim orde lama. Di mana politik menjadi panglima. Kebebasan politik tanpa batas. Negara tidak punya haluan. Presiden tanpa pertanggungjawaban dan MPR hilang legitimasi. Praktik demokrasi liberal kian menjadi. Politik transaksional tak lagi bisa di hindar. Apalagi etika dan tatakrama berdemokrasi hilang sudah.

Carut marut politik bukan salah seorang Presiden. Tapi sistem politik kita yang rapuh. Siapapun Presidennya jika sistemnya tak diubah akan sama saja. Tak ada jaminan bahwa ketika Prabowo menang tidak diperlakukan sama seperti para pendukung Prabowo memperlakukan Jokowi, mungkin akan terus berulang saling membalas. Politik balas dendam. Kritik terhadap Presiden sudah di luar batas wajar dan itu sangat membahayakan demokrasi.

*^^*
Jihad politik harus dipahami sebagai sebuah idealitas membangun negara secara komprehensif bukan sekedar mendudukkan satu calon legislatif di dapil tertentu, atau terlibat dalam dukung mendukung capres atau cagub tertentu, tidak sebanding dengan soal besar yang dihadapi negara. Ibarat mau menangkap gajah dengan seutas benang,

Negara kita dalam keadaan oleng. Hilang haluan dan tak tentu arah. Maka jihad politik MUHAMADIYAH adalah mengembalikan haluan negara dan kembali membawanya ke tengah. Peran MUHAMMADIYAH sebagai pendiri NKRI dan guru bangsa harus diambil kembali. Bukan larut dalam konflik perebutan kekuasaan kecil-kecil.

+**+
Jihad politik MUHAMMADIYAH adalah mendorong dan mengikhtiarkan kembalinya Pancasila sebagai falsafah bangsa. Sebagai philosophische ground slach, sebagai weltstanchaung. Sebagai kepribadian dalam berpolitik dan berdemokrasi. Mengembalikan UUD 45 sebagai sumber hukum dalam berpolitik, berekonomi, bersosial dan bernegara secara utuh dan komprehensif. Membangun Tradisi politik etis dan nilai-nilai luhur yang disepakati.

Lebih jauh, terus mendorong dan berikhitiar membangun masyarakat madani sebagai model ideal negara bangsa, dengan beragam suku, agama, ras dan bahasa. Saatnya Muhammadiyah menjadi aktor intelektual yang menjadikan moral dan etik sebagai basis fundamental. Kembali memperkuat peran ke-umatan, kebangsaan dan ke-Indonesia-an … inilah jihad politik !

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here