Komunitas Padhang Makhsyar #290: Adab Bernasehat dan Kawanan Pengkritik Jarak Jauh

0
82
Foto ilustrasi kritikus diambil dari locita

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jika ada pemimpin berbuat salah apa yang kita lakukan? Memberinya nasehat kemudian mendoakan. Mengkritik dan menyebar kekurangannya di depan publik. Atau berdiam saat ketemu dan menggunjing di belakangnya sambil membuka semua aibnya. Hanya itu pilihan dan kita entah ada dimana.

*^^^*
Siapapun tak luput dari salah apalagi seorang pemimpin . Mana bisa memuaskan ratusan juta kepala. Jutaan keinginan dan jutaan kehendak. Ada yang puas memuji karena sesuai kehendak dan ada yang mencela memaki karena tak sesuai keinginan dan kehendak. Lantas kita ada dimana ?

Menasehati pemimpin dengan nasehat yang baik dan cara yang bijak adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan ketika Nabi saw ditanya jihad apa yang paling utama?

Beliau menjawab:

‎كلمة حق عند سلطان جائر

“Kalimat kebenaran di sisi pemimpin yang dzalim“. (HR. Nasai, Ibnu Majah dan dishahihkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 491)

*^^*
Banyak orang salah paham tentang hadits ini dan menjadikannya dalil bolehnya membeberkan aib pemimpin di media umum. Ini tidak benar. Hadits ini menganjurkan untuk menasehati pemimpin tapi di hadapannya secara langsung. Perhatikanlah lafadz عند سلطان (di sisi pemimpin).

Oleh karenanya Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun secara langsung dan menasehatinya dengan lembut.

Dan pergilah kalian berdua kepada Firaun karena sesunguhnya dia melampaui batas. Bernasehatlah dengan kata yang lemah lembut semoga dia ingat dan takut (QS. Thoha: 43-44).

*^^*
Adapun kita menyebut kejelekan pemimpin di forum umum seperti facebook, mimbar umum dll yang jauh dari pemimpin maka ini bukanlah nasehat karena yang dinasehati saja belum tentu membaca atau mengetahuinya bahkan ini bisa memprovokasi massa untuk benci pada pemimpin sehingga menimbulkan kerusakan dan pembrontakan (lihat Syarh Arbain Nawawiyah hal. 121 oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin).

Anehnya, banyak para pengkritik pemimpin dari jarak jauh tadi jika berhadapan langsung dengan pemimpin mereka justru menjadi manusia pengecut. Hal seperti ini dinilai oleh ulama salaf dahulu sebagai suatu kemunafikan sebagamana kata Ibnu Umar dalam riwayat Al Bukhori (7178).

Jadi menasehati langsung di hadapan pemimpin dengan cara yang bijak adalah kemulian dan keberanian. Adapun mengungkap aib dari kejauhan dan di media umum adalah penghinaan dan kemunafikan.

Marilah kita mendoakan kebaikan untuk pemimlin kita siapapun itu agar dibimbing oleh Allah swt kepada jalan yang benar sesuai ajaran Islam.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here