Komunitas Padhang Makhsyar #293: Kafer Teologis dan Kafir Sosial

0
83
Foto Ilustrasi penyembah berhala diambil dari arkuji dot com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Bergantung bagaimana pilih kata, agar definisi kafer terdengar romantis — NBY

Sebutan kafer kerap dimaknai sebagai sesiapa yang bukan Muslim. Maka siapapun yang di KTP nya tidak ada tercantum Islam sebagai agama, maka dia adalah kafer. Mungkin benar, tapi juga terlalu sederhana. Sebab tak sedemikian halnya. Kafer sosiologis bisa bermakna luas sesuai kondisi norma dan tata nilai yang disepakati. Kita sedang masuk era revolusi bukan tidak mungkin pemahaman kita terhadap agama harus di revolusi bukan agamanya tapi paham keberagamaan kita. Lantas kita mau apa .. gelombang revolusi telah dekat di sekitaran kita.

*++++*
Kafer memang menjadi kata yang belakangan kerap membuat telinga memerah. Apalagi kemudian dirasuki paham politik. Sebab kafer kemudian mengalami reduksi dari makna generiknya.

Konsep kafer dalam makna teologis adalah siapapun yang menolak kebenaran maka dia adalah kafer. Dia punya mata tapi tak melihat, punya hati tapi tak berasa. Punya telinga tapi tak mendengar. Punya akal tapi tak berpikir. Indah bukan. Bergantung bagaimana kita pilih kata agar definsi kafer terdengar romantis sehingga penyandang kafer tak tersinggung dengan sebutan kafernya.

Dengan pengertian seperti ini maka kafer tidak menunjuk pada seseorang tapi lebih pada kualitas prilaku dan sikap seseorang yang normatif. Dalam ranah teologis maka siapapun yang merasa diri paling tahu sehingga menampik semua kebenaran yang datang maka dia adalah kafer termasuk iblis yang sombong membanggakan dirinya.

*^^*
Thaghuts adalah sebab segala kekafiran. Siapapun yang di-taghuts-kan akan menjadi penghalang bagi dirinya dan kebenaran. Iblis laknatullah menjadikan awal penciptaan sebagai thaghut. Aku terbuat dari api dan Adam terbuat dari tanah katanya bangga. Lantas ia membangkang ketika diperintah merendah kepada Adam yang terbuat dari tanah.

Thaghut adalah berhala, semacam tuhan dengan t kecil yang berpotensi menolak kebenaran. Dan pasangan capres bisa saja berubah menjadi thaghut penyebab kekafiran karena cintanya yang terlalu kepada capres jagoannya membuat mata nya tak bisa melihat, hatinya tak berasa, akalnya tak berpikir dan telinganya tak bisa mendengar karena tertutup capres yang dicintainya. Maka dia telah kafer.

Sebab orang yang tak tahu terimakasih. Enggan bersyukur juga kafer. (Walaa in kafarttum .. ) yaitu kafer terhadap nikmat pemberian juga kafer. Jadi kafer sosial adalah kesombongan berbasis ego. Abai dan tak hirau pada sekitar. Tidak memberi makan pada yang lapar atau memberi minum pada yang haus juga kafer. Orang yang menimbun makanan di saat paceklik, menimbun air di saat musim kering juga kafer.

*^^*
Jadi kafer adakah konsep kualitatif normatif bukan menunjuk pada seseorang bahwa kemudian indikasi kekafiran melekat pada seseorang karena sikap dan perilakunya memenuhi syarat disebut kafer seperti yang disebut dalam kitab suci ya Mengertilah jangan baper .. apalagi Sensi kemudian berikhitiar merubah definisi kafer, seperti merubah kata fiksi sesuai yang dimaui itu malah Mbahnya kafer … !!!
Wallahu ta’ala a’lm

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here