Komunitas Padhang Makhsyar #296: Kepemimpinan Umar Ibn Khottob: Kisah Uthopis Para Ulama

0
100
Foto ilustrasi Amirul Mukminin Umar Bin Khottob diambil dari twitter

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jangankan pemimpin. Mendapati Ulama yang wara’ dan zuhud seperti Umar pun sekarang kian langka– saya mengagumi khalifah Umar ra bukan mengagumi ulama yang hanya bisa membanggakan Umar ra tapi tak mampu berlaku zuhud seperti Umar ra –nby

Jangan kagumi para penulis dan ulama pengkisah karena mereka hanya bisa menulis dan berkisah tentang kehebatan kepemimpinan Umar Ibnul Khattab pun dengan para ulama dan da’i lainnya yang fasih mengisahkan. Sebab saya, HRS, UAS, UYM, UAH, Aagim, UAI dll hanya peng-kisah, bukan pelaku yang bisa menjadi pemimpin seperti Umar Ibnul Khatthab.

*^^*
‘Bagaimana mungkin aku bisa peduli terhadap nasib manusia jika aku tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan?” Kata Ibnul Kathhab pada sebuah Majlis yang membahas nasib rakyat. Mungkin kalimat ini yang menginspirasi Jokowi naik KRL dan Prabowo rela melepas baju agar tahu rasanya naik berdesakan di jam sibuk dan dinginnya tanpa pakai baju.

Para ahli sejarah menyebutkan bahwa suatu ketika kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab diuji dengan krisis daging dan minyak samin. Saat itu Umar merindukan makan daging dan minyak samin. Namun karena kondisi rakyatnya sedang mengalami krisis, beliau menahan keinginannya itu sampai-sampai lambungnya keroncongan. Lalu ia meletakkan telapak tangan di perutnya seraya berkata, “Wahai perut! Engkau tak akan mendapat jatah minyak selama harga minyak samin masih melambung tinggi”.

Di meja makannya dihidangkan daging unta terbaik dan minyak samin terbaik usai sembelihan untuk dibagi bagi pada rakyat yang susah karena paceklik yang lama. Tapi khalifah Umar enggan. Lalu sambil menyingkirkan hidangan tersebut, Umar berkata, “Bagus-bagus! Sungguh, pemimpin paling buruk adalah aku, jika aku memakan bagian yang terbaik darinya sedangkan kusisihkan tulang-tulangnya untuk rakyatku.” Kemudian ia memanggil pembantunya yang bernama Aslam, “Wahai Aslam! Angkatlah hidangan ini dan berilah aku roti serta minyak.”

*^^*
Anda tak akan menemukan kebaikan apapun dalam diri saya jika Umar ra yang mulia diperbandingkan. Saya sangat yakin bahwa beliau melakukan nya dengan tulus bukan karena pencitraan agar disebut khalifah merakyat. Tapi musuh musuh khalifah tetap saja menganggap yang dilakukan khalifah adalah pencitraan dengan berbagai dalih,

Prabowo dan Jokowi tak harus memanggul gandum memberi makan ibu yang memasak batu kali untuk tiga anaknya yang lapar. Atau seperti Abu Bakar yang menghidangkan makan untuk tamunya dalam keadaan lampu mati karena piring kosongnya atau berlaku seperti Umar bin Abdul Aziz yang urung pinjam gaji karena tak ada jaminan umur setahun ke depan.

Puluhan teladan dari para pemimpin teladan. Tapi sayangnya bukan kita atau antum. Kita hanya berusaha meneladani dan tak patut pula kita menuntut agar orang berperilaku seperti para sahabat teladan sementara kita sendiri juga tak ada kemampuan.

Nyatanya mereka para ulama yang membanggakan Umar bin Khattab itu juga naik pesawat VIP dan dijemput alphard bukan jalan kaki. Rekeningnya berjibun tak pernah kosong. Mereka juga akrab dengan sanjung puji. Tinggal di Rumah mewah bukan di tenda. Pipinya juga tak ada bekas pelepah kurma sebagai bantal. Sebab mereka tidur diatas kasur dan bantal bermerek impor, bukan di pelepah kurma sebagaimana kerap mereka kisah kan. Tak ada yang mampu hidup tawadhu dan zuhud seperti yang dilakukan Umar meski para ulama sekalipun.

*^^^*
Memimpin memang jalan terjal. Termasuk resiko mati di tangan musuh politik yang tak puas. Para khalifah telah membuktikan itu. Khalifah: Umar, Ustman dan Ali mati ditangan musuh politiknya. Sebab para khalifah juga tak bisa memuaskan semua orang. Sebuah pilihan yang harus dijalani tanpa kata mengapa.
Wallahu taala a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here