Komunitas Padhang Makhsyar #297: Fat-ta Bi’uni: Jejak Sang Rasul, Belajar Tawaddhu’

0
245
Foto orang berziarah dimakan nabi saw diambil facebook

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

I’lam an-nadzilaka li ustadzika id-zuka. Wa tawadhu’ akaluhu rif ‘atuka. Wa khidmatakalahu wa barakatun-laka — adaabut ta’alim

Mengertilah bahwa: Andhap asharmu kerendah-hatian-mu kepada gurumu di situlah letak kemuliaanmu. Khidmadmu kepada Kyai-mu di situlah letak keberkahanmu. Kebanggaanmu kepada dosenmu di situlah letak keluhuranmu.

*^^^*
Bukan ilmu yang pertama kali dibanggakan. Para ulama terdahulu belajar adab. Rendah hati dan tawadhu sebagai syarat sebelum menerima pengajaran dari gurunya. Inilah kewajiban para murid sebelum belajar ilmu. Tak ada ruang bagi yang sombong. Iblis di usir dari surga juga karena sombongnya. Betapa mengerikan bila ilmu ditangan para tuna moral dan tuna adab..Mereka membantah ulama seperti iblis membangkang saat diperintah sujud kepada Adam karena sombong merasa lebih pintar.

Guru para Failasuf, Socrates berkata: ‘aku tidak tahu apa apa’. Berbanding terbalik dengan para Sofiis yang merasa tahu semuanya. Failasuf adalah guru. Penggembala atau pencerah. Dia membimbing ke jalan benar dan jalan baik. Bukan pencela dan pengkritik yang membuat onar.

Tawadhu kian langka bahkan nyaris tenggelam dibenam ego. Sebab pencari ilmu adalah sekumpulan hedon yang ingin mencari penghidupan dan kebanggaan. Dan sejumput kesenangan dunia lainnya tanpa kata tulus. Ilmuwan kehilangan spiritualitas sebab hanya kebanggaan yang dicari. Para ilmuwan sejati biasanya mengambil jalan sunyi, jalan kerendahatian bukan yang hidup glamor penuh sanjung puji. Tapi ini klise. Siapa mau menjadi pintar tapi melarat. Tak ada yang suka kecuali bagi mereka yang benar terpaksa.

*++++*
Jejak kerendah hatian Rasulullah saw bisa dilacak dari berbagai kisah para sahabatnya: ‘Kala itu, dalam sebuah Majlis Jabir bin Abdillah Bajali duduk di bibir pintu. Nabi mengetahuinya dan segera mengambil kain baju yang dimilikinya, kemudian melipatnya. Dengan ramah, beliau memberikan lipatan itu kepada Jabir sambil memintanya untuk duduk di lipatan kain itu sebagai alas. Jabir meraih kain itu.

Jabir tak menggunakan lipatan itu untuk diduduki sebagai alas, tetapi mengusapkannya ke wajahnya sebagai tanda hormat kepada Rasulullah. Dengan mata berkaca-kaca ia mengembalikannya kepada Rasul, dan mengatakan, Semoga engkau selalu dimuliakan Allah sebagaimana engkau memuliakan aku.”

Bersama para sahabatnya saat Safar mereka sembelih seekor domba. Para sahabat berbagi tugas, ada yang memotong daging, memasak air, menyiapkan bumbu dan Rasulullah memilih mencari kayu bakar. Para sahabat berkata:’biarkan kami yang lakukan semua ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah berkata;’Saya tak ingin lain sendiri dibandingkan sahabat-sahabatku. Allah tak senang melihat seseorang berbeda dari sahabat-sahabatnya,” katanya menegaskan.

*^^*
Imam Syafii menyampaikan pandangannya, bahwa sifat rendah hati atau sering disebut tawadhu seperti yang ditunjukkan Rasulullah akan menuntun orang pada keselamatan, menciptakan keakraban, juga menghilangkan kedengkian dan persegketaan. Rasa cinta, menjadi buah dari sikap rendah hati ini.
Wallahu ta’ala a’lm

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here