Komunitas Padhang Makhsyar #299: Menyisir Akar Radikalisme: Teror di Negeri Paling Aman

0
131

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Terbukti sudah bahwa terorisme bisa dilakukan oleh siapapun dengan ras dan agama apapun. Selama ini hanya Islam yang disematkan sebagai agama teror. Dan itu salah besar ! Kresten, Budha, Hindhu juga bisa menjadi teroris.

*^^^*
Charles Kimballs merumuskan, setidaknya ada empat hal yang menyebabkan radikalisme agama:

Pertama ,menganggap hanya paham kelompoknya saja yang paling benar. Menyalahkan siapapun yang berbeda dengan dirinya. Sikap demikian akan melahirkan radikalisme dan fanatik buta. Tidak ramah dan cenderung memaksakan kehendak atas nama kebenaran yang diyakini. Banyak orang melakukan kekerasan atas nama agama bermula dari sini.

Kedua, menggandrungi masa lampau sebagai sesuatu yang absolut benar. Romantisme berlebihan. Ada kerinduan dan berkeras merealisasikan model masa lampau menjadi masa kini.

Ketiga, taat pada pimpinan agama membabi buta. Ulama atau elite agama sering menjadi kelompok paling sentral. Sebagai uswah atau teladan yang kerap dijadikan panutan umat. Realitasnya umat taat buta atau taqlid. Ngikut tanpa pengetahuan dan kerap menjadi alat untuk membangun kekerasan. Pelaku teror umumnya adalah taqlid buta pada pemimpinya.

Keempat, menjadikan ibadat atau amalan sebagai tujuan. Banyak orang beragama tapi tidak bertuhan. Bahkan meski sudah rajin ke tempat ibadat dan amal saleh lainnya tidak mampu mengenal Tuhannya. Amal saleh justru membuat seseorang semakin menjauhkan dirinya dengan rabbnya. Demikian catatan tentang ke-beragama-an yang cenderung hitam putih dan eksklusif.

Berbagai survey menyebutkan bahwa kekerasan yang diakibatkan oleh agama jauh melampaui ketimbang kekerasan yang diakibatkan oleh politik, kesenjangan sosial, atau ras. Artinya kekerasan atas nama agama menjadi semacam epidemi humanitas akut. Padahal tak satupun agama mengajarkan kekerasan dan intimidasi.

*^^*
Di Christchurch – Aksi terorisme di masjid al Nur dan Leenwood Aveneu di Selandia Baru. Setidaknya 49 orang tewas bergelimpangan. Selandia Baru berduka, di negara paling aman nomor tiga dan nomor delapan paling bahagia itu tak cukup bisa membendung amuk kebencian terhadap Islam.

Adalah Brenton Tarrant seorang laki-laki Australia menulis manifesto ideologi ekstrim kanan anti Islam dan migran. Semangat inilah yang kemudian membuatnya kalap dan gelap mata. Atas nama Tuhan dan kebenaran yang diyakini hanya miliknya, puluhan orang yang sedang beribadat di rumah Tuhan di tembak.

Kekerasan agama baik internal maupun eksternal terus mengalami peningkatan baik kuantitas maupun kualitas dengan durasi yang kian pendek. Tidak ada yang bisa menghentikan kecuali dengan kesadaran kolektif. Sebab semua saling berkait.

*^^*
Saya mengutuk keras tindakan teror atas nama apapun sebab agama tak suruh demikian. Masa depan kemanusiaan masih punya harapan, mungkin belum sekarang tapi saya yakin suatu saat nanti akan lahir khoiru umah. Yang adil, yang cerdas, yang amanah, yang tidak gampang marah, yang toleran, yang suka memberi maaf, dan suka berbuat adil dan menjadi saksi bagi umat yang lain.
Wallahu ta’la a’lm

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here