Komunitas Padhang Makhsyar #308: Kembang Wijaya Kusuma kunci Kemenangan Pandawa di Injury Time

0
39
Foto miniatur karakter pandawa diambil dari tamami jaya

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kembang ini dibuang Kresna menjelang mokhsya di laut selatan. Konon pula kembang ini hanya mekar sekali kemudian mati. Kembang ini bisa menggetarkan jagat, membuka pintu pintu langit yang tertutup dan dewa-dewa yang lengah menjadi perhatian.

*^^^*
Bharatayudha bukan semata perang fisik tapi juga melibatkan para dewa dan leluhur secara emosional. Ini adalah perang hidup mati. Antara dua keturunan Kuru.

Timses solid. Strategi terbaik. Panglima cerdik dan prajurit ulet. Logistik melimpah saja tak cukup. Butuh faktor x.

Saatnya mengetuk pintu langit. Agar semua hati bergetar. Para dewa ikut terlibat membantu. Pendeta Druna, Kripa juga Sengkuni tak kalah khusyu dengan ber bagai washilah dan perantara. Semua kenalan dewa kahyangan disebut satu satu.

Begitu pula Kresna, Bhisma dan Yudhistira. Terus bertasbih merapal mantra dan doa. Menyatukan hati pikiran dan segenap jiwa.

*^^^*
Dua sekutu itu berharap menang. Berharao simpati dan dipilih. Padhang Kurushetra tenang sejenak. Giliran kahyangan yang sibuk. Melayani dan mengidentifikasi mantra dan doa.

Pemenangnya adalah pandhawa. Dan berhak mendapat bunga Wijaya-Kusuma—cuman menjadi rumit ketika keduanya mengaku sebagai Pandhawa tak ada yang mau jadi Kurawa.

Sama bajunya. Sewarna gamisnya . Begitu pula dengan doa yang dupujikan–persis tak ada beda : Laliatul Ijtima dan Gema Nisfu Sya’ban dan ribuan baju putih. Sampai disini para dewa kebingungan. Kembang Wijaya Kusuma urung diberikan–para dewa harus menggelar rapat darurat. Melakukan investigasi ulang siapa Pandhawa beneran dan siapa yang gadungan …
Wallahu taala alaa

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here