Komunitas Padhang Makhsyar #319: Tidak Terkenal di Bumi, Namun Populer di Langit

0
141
Ilustrasi diambil dari merahpituh.com

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Wajah tampan. Gagah dan menarik. Matanya biru, kulitnya ke-merah-merah-an. Janggutnya menempel ke dada menjuntai ke tempat ia sujud. Dua helai pakaian. Satu untuk menutup aurat dan satu helai lagi untuk selendang. Dia seorang faqir tak dikenal di dunia tapi populair di langit. Ahli ibadah dan ahli membaca Al Quran. Dia termasuk salah satu dari 70 ribu orang penghuni surga tanpa di hisab.

Saat akan masuk surga ia di tahan sejenak, Allah berkenan untuk mengijinkan kepadanya memberi syafaat kepada kabilah Muhdhor dan kabilah Rabiah hingga semua masuk surga tanpa sisa. Ia banyak dihina dan dicela dan dituduh sebagai pencuri, atau penipu. Pernah suatu ketika ia diberi dua helai pakaian oleh seorang fuqaha dari Kufah tapi ia kembalikan karena takut ditanya dari mana ia dapatkan pakaian itu.

Yatim sejak kecil. Hidup bersama ibunya yang renta karena tua. Lumpuh dan buta. Bekerja sebagai penggembala dengan upah yang hanya cukup untuk membeli gandum segatang. Bila ada kelebihan ia berikan kepada tetangganya yang juga berkekurangan. Ia puasa di siang hari dan bermunajat di malam hari.

^
Masuk Islam sejak kabar tentang kenabian ia dengar pertama kali. Banyak tetangganya yang berziarah ke Madinah bertemu dengan utusan Allah Muhammad saw. Sementara ia hanya memendam keinginan karena terhalang ibunya yang tua. Ia juga pernah patahkan giginya, seketika ia mendengar Nabi saw giginya patah dilempar musuh. Hingga rindunya tak bisa dibendung, suatu kali dengan berat hati ia memohon ridha ibunya untuk diijinkan berziarah ke Madinah menemui kekasih Allah itu.

Ibunya mengijinkan: “Pergilah kamu .. temui Nabimu dan segeralah pulang pabila telah bertemu”. Ia berangkat dengan jarak 400 km dari Yaman, ia tak pedulikan penyamun, panas dan dinginnya padang pasir. Tiba di Madinah ia ketuk pintu dan mengucap salam kepada rumah kekasih Allah itu. Sayidah Aisyah menjawab dan mengatakan bahwa Rasulullah saw berada di medan perang. Betapa kecewanya ia gagal menemui junjunganya. Ia kembali pulang karena pesan ibunya untuk segera kembali setelah sampai di rumah Rasulullah.

Sepulang dari medan perang, Nabi bertanya apakah ada laki-laki yang mencariku. Nabi berkata:” ia adalah penduduk langit. Ia punya tanda putih di telapak tangannya, apabila kalian berjumpa dengannya mintalah doa dan istighfarnya”, demikian pesan Nabi kepada Ali dan Umar.

^
Ia tak pernah memandang paras Rasulullah hingga beliau wafat. Ketika Umar menjadi khalifah ia teringat pesan Nabi saw agar meminta doa dan istighfar nya. Pada setiap kafilah yang datang dari Yaman, Umar selalu bertanya apakah ia bersama mereka. Hingga setelah ratusan kafilah berlalu baru di dapatkan kabar bahwa ia sedang menjaga unta-unta di perbatasan. Ia baru keluar setelah ibundanya wafat.

Segera khalifah Umar bersama Ali bergegas dan meminta agar di doakan dan memohon istighfarnya. Kemudian ia tak ingin keberadaannya diketahui publik. Hingga seorang sahabat yang terjebak ombak. Kapalnya hampir karam ia temui seorang yang duduk di pojok kapal dan bangkit shalat di atas air. Memberinya pertolongan. Mereka sebanyak 500 orang keluar selamat dari kapal dan tak jadi tenggelam.

^
Pada saat orang akan memandikan jasad nya puluhan orang telah berkumpul menunggu untuk memandikan. Begitu pula saat akan dikafan. Ratusan lainnya menunggu untuk men-shalatkan. Dan ratusan lainnya mengantar dan menunggu di kubur. Abdullah bin Salamah sepulang mengantar jenazah hendak kembali memberi tanda tapi sudah tak ada bekas.

Siapakah engkau tanya Khalifah Umar ? ‘Abdullah (hamba Allah) .. ..”. jawabnya. Kami juga Abdullah .. jawab Umar dan Ali sambil tersenyum. Namamu maksudku .. ia menjawab .. namaku adalah : .. … … “.

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here